Cerita Mbok Sakinem Pedagang Pecel
Gambar hanya ilustrasi di ambil dari Google
Le.. ayo bangun, ra usah adus yo? " Kata mbok nya, pagi - pagi buta Anto kecil yang masih mengantuk harus menemani mbok nya berdagang pecel di pasar , dengan membawa bakul besar yang di gendong di belakang punggung nya, mbok menuntun Anto yang berusia lima tahun.
Setiap hari untuk menuju pasar mereka harus melewati hutan yang gelap dan menurut perbincangan masyarakat yang tinggal tidak jauh dari hutan itu, mengatakan hutan itu angker. Beberapa orang pernah bertemu penampakan mahluk halus. Tetapi mbok Sakinem, perempuan tangguh dan pemberani, yang sudah di tinggal suami nya meninggal sejak Anto dalam kandungannya, harus berjuang sendiri mencari nafkah untuk menghidupi diri dan anaknya. Tidak mengenal rasa takut dengan mahluk gaib, karena beranggapan manusia memiliki derajat lebih tinggi dari mahluk halus.
Mbok Sakinem lebih takut kalau tidak bisa memberi makan anaknya.
Pagi itu cuaca sangat dingin,angin nya menusuk tulang , mbok Sakinem merapatkan baju hangatnya dan Anto di pakaikan baju hangat dan topi agar tubuhnya hangat, tiba- tiba melihat selendang panjang melayang di atas kepala mereka, Anto kecil bertanya kepada mbok nya dengan ketakutan" Opo kuwi sing melayang- layang , aku wedi mbok?" sambil mendekatkan tubuhnya ke mbok nya. " Ojo di delok le..deleng ae ke depan. Selendang putih yang panjang nya bermeter- meter masih melintas di atas kepala mereka dengan meliuk- liuk , mbok Sakinem tidak memperdulikan hanya membaca doa di dalam hatinya.
Selendang putih yang sangat panjang menghilang di tikungan, mbok Sakinem menggendong Anto dan berjalan lebih cepat.
Menempuh perjalanan sejam, mereka tiba di pasar, suasana pasar sudah ramai dengan pengunjung, mbok Sakinem cepat- cepat menggelar dagangannya.
Para pembeli langsung berkerumun " mbok, bungkus pecele telu di kei tempe lan tahu baceme ".
Aku tuku limo bungkus, mbok , pecele di kei bakwan karo tempe lan tahu baceme , aku tuku meneh kerupuk mie ne" kata ibu Pujo yang bertubuh lemu yang menjadi langganannya hampir tiap pagi. " Mbok untung aku datang lebih pagi yo ,nek kesiangan ra kebagian pecel ,aku tuku loro pecele di kei kerupuk mie lan bakwan yo? "kata mbak Srintil yang sedang hamil tua, sambil menelan air liur melihat bumbu kacang yang kental dan mencium bau bumbu pecel nya yang wangi jeruk limo.
Dengan sigap mbok membungkus pesanan - pesan pembeli.
Sedang Anto asik jajan kue puli yang terbuat dari beras" mbok puline uenak tenan, tuku meneh yo mbok !! " pinta Anto.
Dalam hati mbok nya " iki bocah jajane kuat tenan , tapi daripada rewel, wis ra opo- opo lah, sing penting anteng".
Keringat mbok Sakinem bercucuran dengan derasnya membasahi kebaya yang di kenakan, karena kerepotan melayani pembeli yang banyak pagi itu, memang pecel mbok Sakinem sudah terkenal kelezatnya dengan bumbu nya yang kental dan harum jeruk limo, hampir tiap hari ramai di kunjungi pembeli apalagi kalau hari libur.
Dalam waktu singkat dagangannya sudah habis ludes, karena hari itu hari Minggu banyak pembeli. Dengan senang hati mbok Sakinem membereskan dagangannya , ada beberapa pembeli datang dan merasa kecewa tidak kebagian pecel ala mbok Sakinem" pecele wis entek mbakyu ,sesok wae bali neng kene" kata mbok Sakinem. Setelah selesai beberes dagangannya, Anto yang sudah kenyang jajan mengantuk, matanya sudah tidak kuat melek, mbok menggendong nya di samping sementara bakul pecel di gendong di punggung nya. Tubuh Anto yang lemu membuat Mbok Sakinem nafasnya tersengal- sengal, dan beberapa kali berhenti untuk istirahat." abot tenan awak anak ku iki, nafas ku sampe senin kemis" Kata mbok Sakinem. Setiba di rumah, hari sudah menjelang sore, mbok Sakinem yang merasakan lelah badan nya,segera tidur dengan pulasnya bersama Anto yang semakin lemu dari hari ke hari karena jajan kue - kue di pasar.
Ke esokan pagi nya setelah dagangannya siap, mbok Sakinem seperti biasa jalan melewati hutan gelap, perjalanan hari ini aman tidak ada gangguan penampakan mahluk halus.
Seperti biasa dagangannya laris manis di serbu pembeli apalagi hari ini mbok Sakinem membuat peyek kacang dan teri yang garing dan gurih, di borong semua oleh pak Kades sing lemu awake .
Suatu pagi kampungnya di gegerkan oleh tangisan tetangganya, mas Sukirno dan dua anaknya yang masih kecil menangisi jasad mbak Karti yang meninggal gantung diri di pohon asem ditengah hutan yang angker" ' Karti bojo ku, tega tenan kowe ninggali anak- anak mu sing misih cilik - cilik , huhuhuhu" tangisan suaminya memecahkan kesunyian pagi. "Kenapa kowe bunuh diri to Karti, mas mu ra nesu karo kowe, mas cuma mangkel sebentar waktu itu, tapi utang mu bakal mas bayar, kok malah bunuh diri ...Karti..karti !!
huhuhuhu " di susul anaknya yang bernama karmi dan Bejo ikut menangisi jasad ibunya yang sudah terbujur kaku. "Huhuhuhu..mbok.. mboke... bangun to ? huhuhuhu !! mbokkkk ojo meneng wae to, bangunnnn to mbok, aku karo sopo mbok" jeritnya sambil menggoyang- goyangkan jasad ibunya yang sudah dingin, kaku dan membiru.
Sejak kematian mbak Karti yang bunuh diri dengan cara gantung diri di hutan angker, karena di kejar - kejar retenir tidak bisa membayar hutang nya ,suasana kampung dan hutan semakin angker.
Bila menjelang malam tidak ada yang berani keluar takut bertemu sosok penampakan mbak Karti.
Semasa hidup nya mbak Karti gemar berhutang, karena ingin berpenampilan layaknya gadis kota, suaminya yang hanya buruh tani sering menasehati tapi mbak Karti tidak mau mendengar nasehat nya.
Sejak kematiannya, orang- orang ga ada yang berani melewati hutan angker tapi mbok Sakinem mau tidak mau hrs melewati jalan itu setiap hari nya ,karena jalan itu, jalan satu- satu nya menuju pasar. Seminggu setelah kematian mbak Karti, mbok Sakinem melewati hutan angker dengan rasa was- was tapi tidak terjadi apa - apa.
Keesokan paginya hujan turun rintik- rintik dari pagi, dengan terpaksa dia menitipkan Anto ke tetangga nya, dengan berjalan cepat menembus hujan rintik- rintik memakai payung. Begitu mendekati pohon asem yang besar tempat mbak Karti gantung diri, terlihat sosok perempuan berambut panjang memakai gaun putih bercak darah, compang camping, terdengar isak tangis nya menyayat hati "hiks..hiks..hiks..hiks hiks !!! ".
Mbok Sakinem hanya melirik penampakan sosok tersebut "rupane koyo si mbak Karti ,iku pasti mahluk halus yg menyerupai mbak Karti jenenge Qorin, mau menganggu manusia, aku ga boleh takut, kalau takut makin berani mengganggu " dalam hati nya betkata .
Qorin adalah jin yang ditugasi untuk mendampingi setiap manusia dengan tugas utamanya adalah menggoda dan menyesatkan. Karena itu, qorin termasuk setan dari kalangan jin.
Mbok Sakinem terus berjalan sambil membaca doa- doa dan mengalihkan pandangannya kedepan . Akhirnya sosok penampakan hilang sendiri dengan meninggalkan suara isak tangisan yang panjang memilukan "hiks hiks hiks !!! ". "Pagi- pagi buta, iseng wae gangguin uwong arep nyari nafkah" mbok Sakinem membathin.
Banyak sosok- sosok penampakan yang sering di lihat mbok Sakinem selama berdagang, mbok Sakinem pernah bertemu mahluk gaib dari jauh seperti orang merokok begitu di dekati menghilang, tapi karena dia pemberani, mahluk gaib pun bosan mengganggunya.
Saat ini mbok Sakinem sudah tua dan sudah pensiun berdagang, Anto sudah menjadi karyawan yang sukses di Jakarta, setiap bulan mengirim uang ke kampung untuk menafkahi mbok nya yang di urus oleh adik nya.
Anto yang sedari kecil sudah sering di ajak mboknya berdagang, melawati hutan- hutan angker menjadi sosok pemberani seperti mboknya. Suatu hari Anto mendapat tugas dari kantor nya yang lokasinya dekat kampungnya , dia sekalian menengok mbok dan kekasih nya Atun .
Menurut perbincangan penduduk di sana beberapa minggu yang lalu telah terjadi pembunuhan seorang laki- laki muda bernama Gepeng yang menghamili gadis di kampung sebelah , di bunuh secara keji di tengah hutan oleh bebarapa pemuda , dan saat ini para pelaku sudah di tangkap pihak kepolisian.
Sejak peristiwa pembunuhan berdarah di tengah hutan yang sepi, para penduduk takut melewati hutan itu yang memang sudah angker sebelum nya.
Anto memiliki kekasih yang bernama Miatun, tinggal nya di kampung sebelah tempat kekasih Gepeng tinggal bersama orang tua nya, untuk menuju rumah kekasihnya harus melewati hutan angker tempat peristiwa pembunuhan terjadi .
Meski Anto sudah tinggal di kota besar , dia tetap setia dengan Atun yang sudah di pacari sejak mereka sama- sama duduk di bangku SMP. "Mbok, aku ijin yo ,habis Maghrib ,arep dolan neng omahe Atun '. " Le ojo keluar malam- malam , katanya pemuda - pemuda di sana orang nya beringas- beringas , nek liat laki- laki sering datangi rumah perempuan , di hajar.
iku koyo Gepeng mati di bunuh di hutan angker " menasehati nya dengan perasaan kawatir. "Nek Gepeng kan salah mbok, dia menghamili pacar nya ga mau tanggung jawab " sahut nya menenangkan mbok nya.
" Yo kowe bener le, tapi kowe kudu hati - hati le, ojo lama- lama mertamune, sesok pagi kan kowe kudu survey lokasi tempat penginapan sing bakal di bangun oleh kantor mu " Mbok nya mengingatkan
Setelah shalat Maghrib, Anto yang sudah berdandan rapih terlihat ganteng memakai kaos, celana dan jacket jeans biru , kulitnya yang putih bersih serta bertubuh atletis terlihat ganteng. " Masyalah, ganteng nya anak mbok, ga kalah sama orang kota, mbok bangga sama mu To" Kata mboknya dengan wajah semringah.
" Sopo dulu mboke" kata Anto kesenangan dengar pujian mboknya. Dengan membaca Bismillah, Anto berjalan dengan membawa senter besar karena jalan di kampung belum ada penerangan apalagi akan melewati hutan, jarak rumah kekasihnya jauh bisa di tempuh satu jam berjalan kaki dan tidak ada ojeg di sana.
Anto berjalan dengan santainya, bila lelah duduk sebentar dan minum air yang di bawa di botol.
Kekasih nya Atun bekerja sebagai guru TK di kota, tiap pagi dengan mengendrai motor berangkat ke sekolah TK untuk mengajar.
Anto tidak sadar kalau tempat dia beristirahat tempat peristiwa pembunuhan terjadi. Baru saja duduk dia mendengar suara orang merintih kesakitan dan meminta tolong dengan suara lirih " toolonggg.. toooolooong... "..
Dia memasang telinganya dengan tajam suaranya terdengar jelas dekat dia duduk. Dia bangun dan mencari- cari, dengan senter menyoroti pojokan pohon beringin yang sangat besar , dengan kaget melihat bayangan hitam sosok laki- laki berdiri sambil memegangi perutnya yang berlumuran darah, bertubuh tidak begitu tinggi, agak kurus berambut cepak, wajah dan bajunya penuh darah, dia seperti mengenal sosok itu
" aku baru ingat ,itu sosok Gepeng yang di bantai oleh kelompok pemuda beberapa minggu yang lalu".
Segera sadar itu bukan Gepeng tapi qorinnya yang ingin mengganggu manusia, sosok itu masih merintih kesakitan suaranya seperti jauh terbawa angin padahal dekat sekali posisi nya , Anto yang sedari kecil sudah sering melihat penampakan mahluk gaib tidak merasakan takut sama sekali dan agamanya juga kuat, dia berdoa dengan khusyu, tidak lama, sosok tersebut menghilang , dengan membaca Bismillah, Anto melanjutkan perjalanan kembali.
Setiba di rumah Atun dia menceritakan kejadian di tengah hutan angker, bertemu dengan sosok penampakan hantu menyerupai Gepeng, Atun yang penakut , kawatir bila kekasih nya pulang akan terjadi sesuatu di hutan angker, dan malam itu tiba- tiba hujan turun dengan derasnya kilat menyambar- nyambar, takut terjadi sesuatu di jalan, dengan izin orang tuanya Anto di titipkan di rumah pakde nya yang letaknya sebelahan dengan rumah keluarga Atun, agar tidak menjadi fitnah orang kampung.
Ke esokan paginya Anto pulang di antar Atun dgn mengendarai motor ,tapi tidak melewati hutan angker tempat pembantaian Gepeng , mereka melewati jalan raya.
Tempat peristiwa pembunuhan itu, sekarang sudah di penuhi rumah penduduk dan tidak angker lagi, Sedang Atun dan Anto sudah menikah , Atun di bawa ke Jakarta , mbok Sakinem sudah lama meninggal dan rumahnya di kampung sudah di jual.
Ayyo semangat lagi buat cerpennya.. Sehat sllu Bu 🙏
BalasHapusMks sehat sll bwt mas Depi
BalasHapus