Dua Waria Di Teror Sosok Wanita Yang Mati Penasaran.
Gambar Hanya Ilustrasi Di Ambil Dari Google
Di Sebuah Kota kecil tinggal seorang waria bernama Desy alias Dedy, bila siang hari bekerja sebagai karyawan di sebuah salon ternama di kota itu, dan bila malam hari dia mencari uang tambahan dengan bekerja sebagai penjaja seks bersama teman- teman nya , mangkal di sebuah taman untuk melayani laki- laki hidung belang .
Orang awam tidak akan menyangka Desy alias Dedy adalah seorang waria karena penampilan nya persis wanita tulen , banyak teman - teman sesama waria yang iri dengan nya karena dia primadona para laki- laki hidung belang.
Waria adalah laki-laki yang bertingkah laku seperti perempuan, mulai dari cara berbicara, cara berjalan, dan cara bersosialisasi dengan lingkungan seperti perempuan.
Malam itu Desy alias Dedy yang berkulit putih berdandan bak peragawati, dia mengenakan pakaian long dress backless berwarna merah menyala, untuk menyembunyikan bulu- bulu halus pada kaki nya dia memakai kaos kaki stocking tipis berwarna cream, wajah nya di make up dengan menor dengan lipstik merah dan bulu mata ala angin puting beliung , dia juga memakai wig panjang untuk menyembunyikan rambut cepak nya.
" Astaga.. Des elu cantik banget malam ini..persis pewong
( perempuan) artis korea, cuco
( cocok) banget dandan kaya ini " ujar teman nya Yanti alias Yanto yang bertubuh kekar berprofesi sebagai tukang gali sumur pompa di siang hari.
" Eike mah ga pede pake gaun backless.. punggung Eike banyak panu nye dan otot badan eike( saya) pada menonjol entar pelanggan eike
( saya) kabur takut di piting , hehehe!! " ujar nya bercanda sambil memandangi kecantikan Desy alias Dedy yang hanya tersenyum .
" Yan.. coba elu pakai sepatu high heels( hak tinggi) biar seksi tampilan nya ga keliatan kaya lekong nya( laki nya) " ujar Desy alias Dedy ke Yanti alias Yanto sambil membubuhi kelopak mata nya dengan shadow warna biru persis burung hantu yang melek di malam hari.
" Aduhh.. sorry.. sorry to say
( maaf- maaf kata) kalo ada trantib eike ribet ( saya repot) lari nye, bisa eike( saya) kejungkel nyungsep ke got, enakan pake sepatu flat ( hak raya) kaya gini eike( saya) bisa lari sekencang- kencang nye " ujar nya sambil memamer kan sepatu baru nya yang berwarna biru elektrik kontras sama kaki nya yang hitam dekil kebanyakan main di lumpur kalau sedang menggali sumur pompa .
Malam itu Yanto alias Yanti memakai dress motif bunga warna biru senada dengan sepatu nya, dia juga memakai stocking warna hitam untuk menyembunyikan bulu kaki nya yang hitam kasar dan untuk menutupi pori- pori serta jerawat batu di wajah nya dia memakai make up yang tebal bila membersihkan make up nya bisa menghabiskan satu batang sabun mandi .
" Ayo Des, kita jelong( jalan) ke pangkalan pasti sudah banyak pelanggan di sana, eike( saya) harus buru- buru sampe di sana takut pelanggan eike
( saya) bang Dobleh kang bajay di tilep ( di ambil) ame Salwati yang kelemar - kelemer tapi kalo liat duit gesit banget " ujar nya.
Untuk menuju tempat mangkal nya, mereka melewati kampung " Sunyi ", jalan nya memang sunyi sepi jarang orang melewati kampung itu , di sana banyak terdapat pepohonan besar seperti pohon waru, pohon asam, pohon beringin yang konon kata nya tempat berkumpul nya setan menambah horor suasana nya, sebenar nya ada jalan lain yang lebih dekat ke pangkalan mereka, tetapi di sana bila sore hari banyak anak - anak muda pengangguran yang nongkrong suka menganggu mereka dengan mengata - ngatai" banci kalengan....banci...kalengan
.. banci kalengan mau...
kemenong ( kemana) huahaha , kok jalan nye ngepot awas nyungsruk ke tanah, huahaa!!! ."
" Tumben ini jalan sepi banget ye?? ga kaya biasa nye , biasa nye hari gini emak- emak berburu kutu " ujar Yanti alias Yanto.
" Iya bulu kuduk eike( saya) berasa merinding, cepetan jalan nya !! " ujar Desy alias Dedy berjalan dengan cepat.
Malam itu Desy alias Dedy mendapat pelanggan yang banyak sedang Yanti alias Yanto cuma dapat tiga pelanggan, itupun dia harus banting harga sampai nyungsep
" Yan.. kita mampir dulu makan sate di ujung jalan, daging nya enak dan lembut apalagi bumbu kacang nya medok banget " ujar nya sambil menelan ludah .
" Eike( saya) mau di traktir nih Des?? " tanya nya.
" Iya.. malam ini eike ( saya) kebanjiran pelanggan sampe teklok( lemes) dengkul eike
( saya) " ujar nya lagi.
" Bagus hoki elu, tiap malam pelanggan nye ngantri, eike
( saya ) kalo ga banting harga sampe nyungsep ga ada yang ngelirik" ujar Yanti alias Yanto dengan sedih.
" Udah ga usah sedih semoga besok dapat pelanggan yang banyak" kata Desy alias Dedy.
Mereka sampai di warung sate yang malam itu sepi ga ada pembeli .
" Alhamdulilah ada cewek jadi - jadian mau beli sate.. laris manis " bisik pedagang sate dalam hati nya kegirangan.
" Bang bikinin sate ayam nya dua porsi ya , pake lontong , kasih sambel sama bawang goreng nya yang banyak " pesan Desy alias Dedy.
Bau harum sate menggugah selera, mereka segera menyantap nya dengan lahap.
" Busyet bencong ( banci) yang badan nye keker kaya sumo yang dandan nye kaya ondel- ondel betawi, makan nye dokoh ( doyan) dan cepet banget kaya buaya makan bangke ayam, hehehe " gumam pedagang sate dengan jahil dalam hatinya keheranan.
Merasa di perhatikan Yanti alias Yanto melirik tajam ke pedagang sate yang cepat- cepat mengalihkan pandangan nya " busyet !! serem amat tampang nye apalagi body nye kaya kuli panggul Sindang , kalo aye di piting bisa rontok badan aye yang tipis kaya triplek..hihh
serem " bisik nya dalam hati ketakutan di liriki oleh Yanti alias Yanto dengan mata tajam nya.
Suatu malam, salah satu penduduk kampung " Sunyi " mpok Maya yang hamil tua anak pertama ada tanda-tanda ingin melahirkan , dia merasa bahagia tetapi juga cemas.
Namun, saat dia dibawa ke rumah sakit, keadaan nya tiba- tiba menjadi kritis dan ngedrop( menurun) kondisi nya.
Dia mengalami komplikasi yang tidak terduga, meskipun tim medis RS sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawanya dan bayinya, akhirnya mpok Maya beserta bayi nya meninggal dunia setelah melahirkan.
Suami nya bang Adul tidak menyangka istri dan anak nya secepat itu pergi, dia tidak kuasa menahan kesedihan sehingga beberapa kali jatuh pingsan, keesokan hari nya setelah istri dan anak nya di makam kan dia pergi meninggalkan rumah kontrakan nya untuk pulang kampung .
Setelah pemakaman mpok Maya siang itu , penduduk desa mulai merasakan kehadiran yang aneh.
Malam hari, suasana kampung "Sunyi " menjadi sunyi sepi mencekam , beberapa malam ini, suara tangisan bayi sering terdengar di sekitar rumah kontrakan mpok Maya. "Oeeeeee..oweeeeeeeee..rrrr
oweeeee...rrrrrrrr.....!! ".
" Bang itu suare tangisan bayi nye mpok Maya , hihhhhhhhhh sereeem , aye takuttt bang !! " ujar mpok Rahma salah satu tetangga nya ke suami nya bang Odeng yang penakut, mereka segera menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut.
"Pssttt.. kita pura- pura budeg
( ga dengar) aje " bisik laki nya ketakutan dari balik selimut.
Beberapa warga kampung itu mengaku melihat sosok wanita berpakaian putih, dengan wajah yang penuh kesedihan, rambut nya panjang berantakan menyapu tanah, berkeliaran di dekat rumah kontrakan nya.
Malam itu hujan gerimis menambah mencekam suasana " Kampung Sunyi " , dua waria Desy alias Dedy dan Yanti alias Yanto yang beberapa hari tidak ke pangkalan karena pulang kampung tidak mendengar berita bahwa di Kampung itu baru saja ada wanita meninggal setelah melahirkan , mereka tenang- tenang saja berjalan melewati kampung
"Sunyi" dengan memakai payung.
Ketika melewati rumah kontrakan mpok Maya yang gelap gulita, tiba- tiba angin berhembus dengan kencang "wadoww.....!! kenceng amat angin nye, basah kuyup lepek semua deh badan eike ( saya) !! " teriak Yanti alias Yanto dengan kemayu( manja) .
" Aduh sepatu high heels eike
( sepatu hak tinggi saya) kejeblos ke dalam lumpur nih, tolongin eike ( saya) Yan !! "kata Desy alias Dedy bersungut- sungut.
" Udah lepas aje Des daripada rempong ( repot) " ujar Yanti alias Yanto yang tubuh nya sudah basah kuyup kehujanan dan make up nya luntur semua sehingga wajah nya cemong persis badut Ancol .
Tiba-tiba, mereka di kejutkan dengan suara tangisan bayi yang nyaring memecahkan kesunyian malam" oeeekkkkkk oeoooooeeekkkkk....errrrrrr!!!".
" Suara apaan tuh Des ?" tanya Yanti alias Yanto keheranan.
" Kaya suara kucing mau kawin?? " sahut Desy alias Dedy sambil mencari asal suara tersebut.
" Bukan suara kucing tapi itu suara tangisan bayi " ujar nya.
" Tapi dari mana asal nya?? coba dengar kaya nya berasal dari rumah itu, tapi kok gelap gulita rumah nya?? " ujar Desy alias Dedy keheranan.
Karena penasaran mereka mendekati rumah itu "ayoo kita kerumah itu , tapi kaya nye rumah ini kosong lampu nye mati total , Des" bisik Yanti alias Yanto mulai merasakan takut.
" Jangan- jangan yang nangis itu bayi kuntilanak..hihhhh
horor nek, coba elu fikir Yan, ga mungkin ada bayi manusia di dalam sendirian , mana gelap gulita, eike ( saya) ngeri, ayo kita cap cus ( pergi) dari sini nek " bisik Desy alias Dedy ketakutan .
Ketika mereka mau melarikan diri, tiba- tiba sosok wanita muncul di depan mereka, wajahnya tampak pucat dan matanya hitam bolong kosong dengan gaun putih dan rambut panjang nya yang berantakan menyapu tanah .
" Bujug buneng..serem amat nih pewong ( perempuan) eike
( saya) ampe ngajret ( kaget) !!" teriak Yanti alias Yanto dengan perasaan terkejut.
"Itu...kuntiiii...kuntiiii..kuntil....
kuntilanak...... kaburiang
( kabur) nek...!!! "teriak Desy alias Dedy terkejut sambil berlari pontang panting sampai nyungsep- nyungsep ke tanah lumpur.
Yanti alias Yanto mengikuti dari belakang " tolongggg... eike
(saya)ada....kuntilanakkk.....pewong( perempuan)seremmm
mm, ayo cong ( banci) lariii..!! " teriak nya sambil mengangkat rok nya tinggi - tinggi sehingga terlihat CD nya yang berwarna kuning neon, agar bisa berlari dengan cepat, teriakan nya memecahkan keheningan malam , tapi tidak ada satu orang pun keluar dari rumah nya karena penduduk takut bertemu kuntilanak .
Suara kuntilanak yang lembut dan lirih namun penuh kesedih-
an berbisik, "... di mana bayi ku ...bayi ku,hiks..hikssss.. hikssss
ssss...hiksss, di mana bayi ku !!"
Dua waria semakin ketakutan dan berlari semakin kencang menjauhi rumah kontrakan mpok Maya , tetapi arwah mpok Maya terus mengejar mereka, seolah tidak ingin mereka pergi.
" Untung eike ( saya) punya pengalaman di udak- udak( di kejar- kejar) ame trantib jadi eike( saya) bisa lari kenceng ...ayo nek...cepet lari..tar elu di suruh netekin bayi nye..bisa rempongwati ( repot) ..." ujar nya ke Desy alias Dedy yang semakin ketakutan .
Akhir nya mereka sampai di warung tukang sate dan dua waria jatuh nyungsep di depan gerobak nya.
Tukang sate bang Japri yang sedang merem- merem ayam terkejut dan melompat dari kursi nya " busyetttt.. ada buah nangka jatuh.. untung ga niban- in gerobag aye ato kepale aye bisa bonyok ( hancur) , bisa kapiran ( repot) !! " ujar nya sambil mendongak kan kepala nya ke atas pohon nangka yang buah nya sebesar- besar anak bayi.
" Bang... tolong eikeeeee( saya) aduhh sekong ( sakit) badan eike) saya) !! " rintih dua waria dengan nafas tersengal - sengal, bang Japri terkejut" busyet elu ngapain ngedeprok
( duduk) di depan gerobag aye ?? " tanya nya keheranan.
" Eike( saya) bukan ngedeprok
( duduk) bang tapi jatuh nyungsep " ujar nya sambil meringis kesakitan.
Dandanan mereka sudah acak- acakan kaya habis gulat dengan macan tutul .
Bang Japri membantu mereka berdiri dan membuatkan teh hangat.
" Emang mbak eh mas..berdua dari mane, sampe ampeg
( sesak)nafas nye dan lepek
( basah) baju nye ?? " tanya nya.
" Eike( saya) berdua ketemu kuntilanak pewong
( perempuan) bang di rumah kosong, tampang nye serem banget " ujar nya masih dengan mimik ketakutan.
" Ooo.. di rumah kosong yang depan nye ada pohon asem besar ye? ? " tanya nya.
" Iye bang betul, yang pohon asem nye besar dan rimbun daun nye " celetuk Yanti alias Yanto dengan tubuh masih gemetaran.
" Emang elu berdua ga denger atau ga tau, kalo yang ngontrak di situ beberapa hari yang lalu mati beranak " celoteh nya.
" Hahhh?!! mati beranak??!" ujar Yanti alias Yanto sambil memeluk erat Desy alias Dedy.
" Dan kata penduduk sana..
mpok Maya jadi arwah penasaran mencari bayi nye " ujar nya lagi.
" Hihhhh... seremmm, jadi mpok Maya udah metong( mati) ?? " tanya Desy alias Dedy ketakutan.
" Berarti tadi arwah nye mpok Maya yang ngudak- ngudak
( ngejar- ngejar) kite " ujar Yanti alias Yanto ketakutan.
" Bang eike ( saya) boleh ga numpang duduk di sini nunggu ampe pagi, eike cuaks ( saya takut) di ikutin arwah mpok Maya " ujar Yanti alias Yanto.
" Ya gpp.. elu duduk aje di sini nunggu sampai pagi " ujar bang Japri yang merasa kasian melihat dua waria yang sudah cemong muka nya kaya habis kena penertiban.
Sejak kejadian malam itu, dua waria tidak berani melewati rumah kontrakan mpok Maya lagi , mereka memilih jalan yang lebih singkat untuk sampai ke pangkalan meski di sana banyak anak muda pengangguran yang mengejek nya sebagai banci kalengan.
Mereka hanya bisa menebalkan telinga nya di ejek banci kalengan oleh para pemuda pengangguran di kampung itu.
Penduduk kampung " Sunyi " percaya bahwa arwah mpok Maya tidak tenang, mencari bayinya yang hilang dan bila malam hari tidak ada orang yang berani melewati rumah kontrakan itu.
Komentar
Posting Komentar