Sinden Wayang Kulit Di Rasuki Arwah Korban Banjir Bandang.
Gambar Hanya Ilustrasi Di Ambil Dari Google.
Di Desa terpencil hidup seorang sinden muda cantik yang memiliki suara merdu bernama Sarinten yang mempunyai keahlian menyanyi gending Jawa atau tembang lainnya yang bertugas sebagai pengiring dalam pertunjukan.
Karena suara nya yang merdu dan piawai menghibur, ia sering di undang ke berbagai macam acara seperti acara sunatan, nikahan, upacara adat .
Suatu malam ia mendapat undangan untuk nyinden di acara pertunjukan wayang kulit di Desa "Wingit"( angker) yang letak nya bersebelahan dengan Desa nya yang terkenal ke angkeran nya.
Desa itu dulu nya bekas Desa yang tersapu banjir bandang yang memakan banyak korban jiwa yang meninggal terseret arus air.
Beberapa penduduk pernah bertemu penampakan arwah penasaran korban banjir bandang yang berdiri di atas jembatan dengan pakaian basah kuyup.
" Nduk kowe arep nyinden neng Desa " Wingit " yo bengi iki( nak kamu mau nyinden di Desa "Angker" ya malam ini) ?? "tanya
bapak nya dengan cemas .
" Iyo pak'e , ono opo( ada apa ) ?? tanya nya.
" Sebaik nya kowe ra usah (kamu ga usah) memenuhi undangan kuwi (itu) , neng kono kan wingit (di sana kan angker), beberapa kali pertunjuk an wayang kulit neng Desa kuwi ( di Desa itu) , dalange kesuru-
pan arwah korban banjir bandang yang meninggal penasaran " ujar bapak nya dengan perasaan kawatir.
" Iyo , iku bener ndhuk ( iya, itu benar nak) kata bapak mu , tolak wae undangan iku, mbok kawatir karo ( sama) keselama-
tan kowe !!"ujar ibu nya dengan wajah cemas .
" Nanging aku ra kepenak yen menolak undangan pak Kades Andanu sing duwe hajat lan bayarane akeh tenan ( tapi aku ga enak kalau menolak undang
an pak Andanu yang punya hajatan dan bayaran nya besar banget) , jarang- jarang aku dapat bayaran tinggi " ujar nya sambil merias diri di depan cermin.
Malam itu Sarinten yang cantik dan bahenol semakin cantik dan seksi dengan kebaya ketat brokat merah ke emasan di padu kain batik panjang bernuansa coklat.
" Konon menurut cerito pendu-
duk di sana beberapa puluh tahun yang lalu ,pernah terjadi banjir bandang , akeh ( banyak) korban jiwa sing ( yang) mati terseret arus air akhir nya mereka menjadi arwah penasaran " ujar bapak nya lagi.
" Pak'e lan mbok' e ra usah kawatir karo aku ( bapak sama ibu ga usah kawatir dengan aku ) , Insha Allah aku bisa menjaga diri " ujar Sarinten bersikeras sambil memasang konde nya yang besar seperti tampah .
" Yo, wis yen kowe nekad,
pokoke ati- ati nduk ( ya, sudah kalau kamu nekad, yang penting hati- hati) " pesan kedua orang tua nya dengan perasaan cemas.
Malam hari yang gelap Sarintem yang bahenol sudah rapih berdandan lengkap dengan konde besar nya yang di selipi bunga melati yang harum ,berboncengan motor di antar mas Kamil, tukang ojeg langganan nya.
Mas Kamil yang penakut sebenar nya merasa was was karena harus melewati hutan lebat yang gelap gulita tetapi demi Sarinten yang diam- diam di taksir nya dia nekad
memberani kan diri.
Hutan yang di lalui lebat dan gelap, pohon nya tinggi- tinggi dan rapat, daun nya lebat, sinar matahari tidak tembus ke dalam hutan saking lebat nya hutan itu, jalan nya tidak rata dan licin karena di penuhi lumut .
" Mbak Ten , rangkul aku sing kuat yo ( rangkul aku yang kuat ya??) , iki (ini) jalane licin tenan ( banget), aku kawatir awake dhewe iso tibo ( kita bisa jatuh) , iso ( bisa) berabe" ujar nya sambil mengendarai motor nya dengan hati- hati .
Ia memacu motor nya menem-
bus dingin dan kegelapan malam "'hihh.. medeni iki hutan singup , mugo- mugo ora kepethuk demit hutan ( hii..
..nakuti hutan gelap dan angker ini, semoga ga ketemu setan hutan ) " bisik nya dalam hati sambil komat kamit mulut nya membaca doa selamat.
Sarinten yang cantik , mulus dan bahenol memeluk nya dengan erat karena takut jatuh , mas Kamil kegirangan" sering- sering wae koyo ngene ,rasane anget ( sering- sering aja kaya gini rasa nya hangat) , heheeee, ealah ,mambu tubuh nya harum tenan ( bau tubuh nya harum banget) , ra koyo bojo ku si Wagiyem, mambu brambang merah campur kencur mambune nggawe mendem ( ga kaya istri ku si Wagiyem, bau bawang merah campur kencur bau nya membuat mabok ) "bisik nya dalam hati.
Setengah jam perjalanan mereka sampai di tempat acara pertunjukan wayang kulit, suasa
na nya sudah ramai , penuh dengan para penonton dan pedagang yang menjajakan berbagai makanan.
Ia di sambut oleh pak Kades yang bertubuh tinggi besar, berkulit hitam legam , yang genit serta mata keranjang , saking genit nya ia memiliki tiga orang istri, itu pun belum cukup bagi nya.
Pak kades yang bernama pak Andanu terpesona melihat kecantikan, kemulusan dan kebahenolan tubuh sinden Sarinten.
"Gendheng tenan !! , ayu tenan iki cah wedok, apalagi body nya bahenol tenan, ra koyo bojo- bojo ku body ne lemu- lemu koyo sapi perah , ckckck, umpamane dheweke gelem di dadikan bojo ku, aku janji ra rabi meneh, hehehe ( gila banget , cakep banget ini anak perempuan, apalagi body nya montok, ga kaya istri- istri ku gemuk-gemuk kaya sapi perah, umpama nya dia mau di jadikan istri ku, aku janji ga nikah lagi, hehe) !! " bisik nya dalam hati sambil menelan ludah.
" Selamat datang cah ayu( anak cantik) di Desa kami yang indah dan tentrem iki ( tenang ini ) " ujar nya sambil tersenyum, kumis nya yang baplang seperti sapu ijuk menambah kesangar an wajah nya.
Ia bersalaman dengan megenggam erat tangan Sarinten yang putih halus mulus bagaikan batu pualam " welehhh.. tangan nya putih halus lembut tenan koyo kain sutra, ra koyo tangan bojo- bojo ku kasap koyo parutan kelopo yen ngelus awak ku pada ledes kabeh " ( ga kaya tangan istri- istri ku kasar kaya parutan kelapa kalau ngelus tubuh ku pada lecet semua ) " ujar nya dalam hati.
"Ra bakalan aku kumbah (ga bakalan aku cuci) tangan ku ben mambu( biar bau) tangan harum nya si Sarinten awet di tangan ku, hehehe" gumam nya dalam hati kesenangan sambil menciumi tangan nya .
Dengan perasaan risih Sarinten menarik tangan nya, dari jauh mas Kamil yang naksir berat mengawasi nya" kurang ajar tenan, pak kades tukmis ( laki- laki hidung belang), nyekel ( megang) tangan si Sarinten berlama- lama, rasano tak arep gebug endase ben benjut ( rasa nya mau aku pukul kepala nya ) biar benjol) !!" ujar nya dalam hati dengan jengkel .
Pertunjukan wayang kulit segera di mulai, penonton bersorak sorai apagi melihat sinden nya yang cantik, putih mulus dan bahenol .
"Gendheng tenan ,sindene ayu
ne ra kiro- kiro lan bahenol awake aku langsung tresno karo dheweke ( edan banget, sinden nya cakep nya ga kira - kira dan montok tubuh nya, aku langsung jatuh cinta sama dia) " ujar para pemuda yang terpesona dengan kecantikan , kemulusan dan kebahenolan nya.
Ibu- ibu cemburu melihat kecantikan dan kebahenolan nya dan mengawasi para suami nya yang melotot melihat kecantikan nya sambil menelan ludah " ee.. pak'e pripat mu di jogo yo?? mengko tak culek pripat mu, ben kapok kowe
( ee.. pak mata mu di jaga ya?? nanti aku colok mata mu , biar kapok kamu) !!" ujar perempuan lemu setengah baya yang galak nya kaya ayam mau bertelur.
Suami nya cuma tersenyum kecut " yen kowe cemburu karo dheweke , pripat ku di kei koco moto kuda wae, bu'e ( kalau kamu cemburu dengan dia, mata ku di kasih kaca mata kuda aja, bu ) !! " ujar nya dengan jengkel.
" Oalah, yen koyo ngene ayune rupane , penyakit bengek ku iso waras ckkkckck, eudan tenan ( oalah, kalau kaya gini cakep nya wajah nya , penyakit bengek ku bisa sembuh, gila banget) !!" bisik bapak tua yang nafas nya senin kemis melihat kecantikan dan kebahenolan sinden
Sariten.
Sarinten dengan suara nya yang merdu dan tinggi
melengking menyanyikan lagu lagu pengantar, di iringi alunan gamelan dan gendang.
"Ning.. nong.. ning... nong !!!! dung. ..dungggg........dung...
.bletakkk..tang..tang ...." suara gamelan dan gendang berbunyi nyaring.
Para penonton ikut berjoget mendengar alunan musik dan suara merdu sinden Sarinten.
Saat pertunjukan berlangsung, suasana menjadi semakin magis dengan cahaya lentera yang berkelap-kelip di terpa angin.
" Brrr.. kok angine besar tenan yo ( brr, kok angin nya besar banget ya) ?? rasane hawane adem tenan yo ( rasa nya hawa nya dingin banget ya) ?? " bisik salah satu pemuda ke teman nya sambil menarik sarung nya yang bau apek.
" Iyo, iki adem tenan , aku sampai merinding ( iya, ini dingin banget aku sampai merinding) " sahut nya sambil mengusap tengkuk nya yang bau asem kecut .
Tiba- tiba penonton merasa
suasana menjadi aneh dan menakutkan .
" Kok , perasaan ku ra kepenak yo?? koyo wingit rasano ??
( kok, perasaan ku ga enak ya??, kaya angker rasa nya)?? " ujar bapak tua ke teman nya di liputi rasa takut .
" Ojo meden- medeni, Min aku dadi wedi (jangan nakut- nakuti , Min aku jadi takut ) " sahut teman nya ketakutan.
" Aku wedi ( takut) para arwah penasaran korban banjir bandang bakal ngeganggu acara iki ( ini) "'ujar bapak tua itu lagi sambil menoleh kekiri kekanan, di sekeliling panggung gelap gulita . Terdengar suara angin bergemerisik di antara pepohonan.
Ketika sinden Sarinten sedang menyanyi, tiba-tiba di pinggiran panggung ia melihat bayangan sosok laki- laki tinggi besar hitam, berwajah gelap, mata nya merah menyala, pakaian nya basah kuyup memandang nya dengan tatapan kosong.
Sarinten yang terkejut langsung merasa pusing kepala nya, kehilangan fokus dan
kesadaranan nya.
Tiba- tiba tanpa sadar ia
tertawa terbahak- bahak , suara nya seperti suara laki- laki berat dan menyeram kan "buahahaaahaaaaaaaaaaaaa
buahaaaaaaaaaaaaaaa !!! " .
Para penonton terkejut melihat perubahan perilaku sinden Sarinten, wajah nya menjadi menyeramkan , tatapan mata nya nanar, penonton ketakutan terutama ibu- ibu dan anak kecil, mereka berlarian pontang panting mencari tempat persembunyian .
" Iku kenopo sindene kok tertawa ne koyo suara laki- laki, dhewe guyu karo sopo ( dia bercanda dengan siapa) ?? " tanya salah satu orang ibu- ibu keheranan.
Iku ( itu) sindne kesurupan, tulung!!, sindene kesurupan demit....hihhh... medeniiiiiiiii .....
..wedi aku , ayo mlayuuu ... (tolong !!sinden nya kesurupan
setan..hihhh nakuti., takut aku
..ayo lari) !!" teriak ibu- ibu dengan panik sambil berlari pontang panting kocar kacir sedang penonton laki- laki tetap bertahan di sana .
"Huhuuuuhuuuuuuuuu.....mbok aku wedhi mbok...ono demit.....(huhuhuu...ibu aku takut bu ada setan ) !! " teriak para bocah ketakutan sambil menangis kejer memeluki ibu nya .
Sinden Sarinten menyanyi
kembali tetapi suara nya semakin tinggi dan melengking, dan suasana menjadi semakin mencekam.
Pak Kades dengan panik dan ketakutan berteriak- teriak memanggil pembantu nya . "Tarnoooo..ngingi kowe !!cepat panggil kyai Barjo saiki ( Tarno!! Kemari kamu, cepat panggil kyai Barjo sekarang )!!.
"Injih.. pak ( iya pak) " sahut nya dengan segera menaiki motor memanggil orang pintar untuk mengusir roh jahat dari tubuh sinden Sarinten.
Tarno kembali dengan cepat membawa kyai Barjo, yang berusaha mengusir roh jahat dari tubuh sinden Sarinten yang mengamuk dengan beringas
ia meronta- ronta, tenaga nya kuat seperti kuda liar mengamuk, kyai Barjo yang bertubuh ceking di tendang
sampai kontal ( mental ) ke pinggiran panggung" aduh..
.....biyung boyoku loro tenan, dasar gendheng !! demit sialan (aduh emak, pinggang ku sakit banget , dasar gila !! , setan sialan) !! " rintih nya kesakitan.
"Arep opo kowe manusia bodoh , arep mengusir aku dari tubuh sinden berisik ini ,buahahaaaa
haaaaahahaaa( mau apa kamu manusia bodoh , mau mengusir aku dari tubuh sinden berisik ini , buahahaa)!! " ujar setan di dalam tubuh sinden Sarinten.
Para pemain musik yang ketakutan berlarian turun dari atas panggung , takut terkena sasaran tendangan sinden Sarinten yang maha dahsyat.
"Ayo ..cepat...turun dari panggu-
ng iki daripada ketendang demit beringas kui ( setan beringas itu) iso kontal awakhe dhewe neng kebon rambutan (bisa mental kita ke kebon rambutan ) !! " ujar pemain gamelan dengan cepat turun dari panggung di ikuti oleh teman- teman nya yang ketakutan.
"Hehhh..!!! kenapa kalian turun dari atas panggung, bantu kyai Barjo memegangi sinden itu, dasar guoblog kalian semua !! kalau kalian kabur ga bakal aku bayar serupiah pun ben kuapok kabeh ( biar kapok semua) !! " bentak pak Kades dengan marah kepada pemain musik yang berlarian kocar kacir, pak kades memberi komando dari bawah panggung karena takut di tendang sama sinden Sarinten yang kesurupan. Saking marah nya kumis nya sampai kaku kaya sapu ijuk.
Dengan terpaksa pemain musik yang ketakutan naik kembali ke atas panggung mereka beramai
- ramai memegangi tubuh sinden Sarinten yang dengan sekuat tenaga melempar mereka ke bawah panggung.
Mereka berjumpalitan mental ke bawah panggung.
" Jancuk !! ... awaku loro kabeh, endas ku benjol, uapesss tenan bengi iki ( anjing!! ....., tubuh ku sakit semua, kepala ku benjol , apes banget malam ini ) !! " teriak dalang wayang kulit kesakitan yang terkena tendangan nya yang dahsyat.
" Bedes elek, bokong ku (monyet jelek, pantat ku) kena tendang, biyuhhh.. biyuhhh..
loro tenan rasano( sakit banget rasa nya) " rintih pemain gamelan sambil meringis kesakitan.
Begitupula teman nya yang lain meringis kesakitan terkena tendangan sinden Sarinten yang maha dahsyat.
Kyai Barjo melakukan ritual untuk mengusir roh jahat , ia mentransfer ajian penggempur setan ke tubuh sinden Sarinten dan sinden Sarinten terjatuh dengan lemas serta meracau" pergi kalian dari sini !!!!! aku merasa terganggu dengan suara berisik sinden ini, kuping
ku sakittt kalau kalian ga mau pergi aku acak- acak panggung ini, buahahahahhhaaa, minggattt saiki ( pergi sekarang ) kalian !! ".
"Heh !! demit sialan, kowe sing kudu lunga neng kene , tempat mu dudu neng kene ( heh !! .. setan sialan, kamu yang harus pergi dari sini, tempat mu bukan di sini ) !! " teriak kyai Barjo dengan marah.
" Heh manusia bodoh, kalau kamu masih menganggu aku, akan aku bawa pergi ke alam ku sinden berisik ini, buaahaa
aaaaaabuahaaahahaa !! " ancam setan yang ada di tubuh nya sambil tertawa terbahak- bahak.
"Oh.. nantangi aku?? wani kowe karo aku, iki rasano ( ooo ..berani kamu sama saya, ini rasakan) !! " teriak kyai Barjo sambil menyemburkan air putih dari mulut nya. "Prottttttttttttttttttttttt.........!!!!".
" Wadowww !!! puanassssss... puanassss....ampunnnnnn, tobatttt !!! , aku ngaku kalah, aku mau keluar dari tubuh sinden berisik ini ,ampunnnn, jangan bunuh akuuuu !! " teriak setan yang ada di tubuh nya.
Sinden Sarinten berguling-guli- ng seperti cacing kepanasan dan menggeram layak nya macan terluka . "Rrrrrrrrrrrrrr.. rrrrrrrrrrrrrrrrrrr....!!! " .
" Hihhh.. medeni tenan iku demite garang ( hih !! nakutin banget, itu setan nya galak) !! " teriak beberapa penonton ketakutan yang menyaksikan nya dari pinggiran panggung.
"Nimas ku ( kekasih ku) cepat sadar, mas mu kawatir " gumam mas Kamil tukang ojeg yang naksir berat dengan nya.
Setelah beberapa saat, dengan bantuan doa dan ritual Kyai Barjo berhasil mengusir roh yang mengganggu nya , sinden Sarinten perlahan sadar kem-
bali , tubuh nya terasa lemah lunglai.
Kyai Barjo yang masih terse-
ngal- sengal nafas nya setelah bertempur dengan setan yang merasuki tubuh sinden Sarin-
ten berpesan kepada pak Kades" pak Kades, mohon maaf lain kali kalau bapak mau membuat acara pertunjukan harus di lakukan ritual dahulu agar tidak di ganggu makluk halus korban banjir badang yang terganggu dengan keramaian ini , kasihan sinden nya yang di rasuki, untung dia selamat tidak di bawa jiwa nya ke alam nya ".
" Ya, pak Kyai, saya ga menyang
ka akan terjadi seperti ini,terima kasih pak Kyai atas saran dan bantuan nya " kata nya penuh penyesalan.
Dan karena kondisi tidak kondusif pertunjukan di bubar kan.
Dengan di antar pulang oleh mas Kamil , Sarinten yang tubuh nya masih terasa lemas hanya bisa memeluki tubuh mas Kamil, ke dua orang tua nya terkejut melihat kondisi nya, wajah nya pucat pasi, tubuh nya lemas, kotor dan seluruh baju nya basah kuyup begitupula rambut nya sudah acak- acakan, konde besar nya sudah lepas dari rambut nya.
" Astaghfirullah, ono opo karo anak ku ,kok acak- acakan koyo ngene, kelambine teles kabeh, apa yang terjadi mas Kamil (ada apa dengan anak ku kok acak- acakan kaya begini, baju nya basah semua, apa yan terjadi mas Kamil ) ??!!! " teriak ke dua orang tua nya dengan perasaan kawatir , ibu nya memeluki nya" nduk kowe kenopo ( nak, kamu kenapa)??" tanya nya tapi Sarintem hanya diam membisu .
" Iki mbok lan pak'e , mbak Ten tadi kesurupan arwah korban banjir dan arwah nya galak jadi susah di keluar kan dari tubuh nya " mas Kamil menceritakan kejadian nya.
" Astaghfirullah, mulane ojo beling Ten yen di kandani wong tuo, di rungoke , akibat nya koyo ngene, untung jiwa mu ora di gowo karo demit kuwi (Astaghfirullah, maka nya jangan nakal Ten kalau di bilangin orang tua, di dengar , akibat nya kaya gini, untung jiwa mu ga di bawa sama setan itu ) !! " ujar bapak nya dengan marah.
" Ojo di seneni disik pak'e , mesake dheweke, awake misih lemas , ben istirahat , oia matur nuwun mas Kamil yo?? !! (jangan di marahi dulu pak ,kasian dia , tubuh nya masih lemas , biar istirahat , oia terimakasih mas Kamil ), sudah mengantar Sarinten pulang dengan selamat sampai rumah " ujar ibu nya dan mas Kamil cepat- cepat pulang takut di ikuti arwah penasaran korban banjir bandang .
"Hihhh.. medeni demit banjir bandang kuwi, aku harus cepat minggat dari sini ( hihhh.. nakuti setan banjir bandang itu) " gunam nya pelan.
Sejak kejadian yang menyeram
kan pada sinden Sarintem, tidak ada seniman yang berani bila di undang ke kampung" Wingit" ( angker) meski bayaran nya besar .
kejadian yang mengerikan itu , di jadikan pelajaran berharga bagi nya.
Komentar
Posting Komentar