Penampakan Sosok Pocong Wedon di Rumah Megah Terbengkalai
Di sebuah desa kecil, terdapat sebuah rumah mewah dan megah yang terbengkalai.
Dahulu kala rumah itu dihuni oleh seorang duda kaya raya tanpa anak bernama bapak Martaka .
Suatu malam sepulang menonton wayang di Kampung tetangga , ia mengalami kecelakaan tragis , mobil nya nya tersambar kereta api dan ia tewas di tempat.
Sepeninggalan nya, rumah nya yang megah dan mewah terbengkalai. Tidak ada warga yang berani melintas di depan rumah tersebut bila malam hari, konon menurut warga setempat , di sana sering berkeliaran sosok pocong wedon, sejenis hantu pocong yang dipercaya masyarakat Jawa memiliki ukuran tubuh jauh lebih besar dan tinggi dari pocong pada umumnya, tinggi nya bisa setinggi pohon atau rumah.
Suatu malam seorang pencuri yang bernyali besar, nekad mengendap- ngendap memanjat pintu pagar besi yang tinggi , bangunan rumah gedung yang besar dan megah, tampak suram dan usang dengan tanaman liar yang tumbuh di sekitarnya.
Cat nya sudah mengelupas, lantai nya kotor oleh debu, beberapa plafond sudah jebol.
" Hihhh...wingit tenan suasanane mana peteng tenan ( hihh, angker amat suasana nya mana gelap banget), medeni tenan iki omah nanging aku kudu melebu ( nakutin banget ini rumah tapi aku harus masuk), aku yakin neng kono akeh barang mewah kudu aku tilep ( aku yakin di sana banyak barang mewah harus aku ambil dengan diam- diam )!! " gumam nya dalam hati kegirangan .
Ia merusak kunci pintu, tengah fokus merusak kunci pintu, tercium bau anyir dan amis.
" Iki mambu opo yo ?? koyo mambu anyir dan amis darah ??, oia aku dadi ingat cerito mbah kakung ku ( ini bau apa ya?? Kaya bau anyir dan amis darah?? oia aku jadi ingat cerita kakek ku ) yen mencium mambu anyir darah tandanya ono pocong berada di dekat sini, hihh, medeni tenan( kalau mencium bau anyir darah tanda nya ada pocong berada di dekat sini , hih, nakutin banget ) !!" bisik nya sambil mencari- cari sumber aroma anyir darah, di liputi perasaan takut.
" Nanging, sebodo amat lah, masa aku kalah karo demit (tapi sebodo amat lah , masa aku kalah sama setan) yen demite metu tak layani ae ....iku demit durung tahu aku mbahe jurig , heheheeee ( kalau setan nya muncul aku ladenin saja, iku setan belum tau aku kakek nya setan, hehe )!! " gumam nya lgi.
Angin bertiup dengan kencang gemerisik angin di antara dedaunan menambah mencekam suasana nya.
Tiba- tiba ia mendengar suara langkah kaki "srekkk...srekkksrek..srek!! " dari balik semak-semak yang tinggi .
Ia mulai di selimuti perasaan takut " jangan- jangan ono wong neng kene ( ada orang di sini ) , yen sampai ketahuan aku arep nyuri ( kalau ketahuan aku mau nyuri ), mate bengi iki aku di gebugin sampai bonyok ( mati, malam ini aku di pukulin sampai hancur)" ujar nya dengan perasaan was- was.
Ia menoleh kearah semak- semak , ia melihat sehelai kain putih kecil melayang-layang tertiup angin " Iku kain opo yo ?? kok koyo popok bayi ( itu kain apa ?? Kok kaya popok bayi) ??" gumam nya keheranan.
Lama kelamaan kain putih itu semakin membesar setinggi pohon mangga .
" Ghendeng ( gila) !!, iku kan pocong wedon...( itu kan pocong wedon ) hihhh.....mate aku yen di ludahi karo pocong kuwi iso gosong terbakar kulit ku sing burik lan kasap koyo buaya kali( mati aku kalau di ludahi sama pocong itu bisa terbakar kulit yang yang burik dan kasar kaya buaya kali ) !!" gumam nya dengan suara bergetar ketakutan.
Ia terkesima tidak bisa bergerak sejenak, setelah pocong wedon itu membesar setinggi pohon mangga, ia menampakan wajahnya yang seram di balik kain putih.
" Gendheng !!, medeni tenan raine ( gila, nakuti banget wajah nya )!!" ujar nya terbata- bata, ia terkejut sampai terjatuh kemudian dengan tubuh gemetaran melarikan diri dan memanjat pagar besi dengan cepat kemudian melompat dan berlari sekuat tenaga tanpa menoleh.
Sejak malam itu pencuri itu tidak berani kembali kerumah megah terbengkalai.
Hujan rintik- rintik malam itu , dua remaja pulang menonton wayang kulit dari Desa tetangga.
"'Pstt ...Jo..delok iku ( psst, Jo lihat itu ) ??" kata Tukidi kepada Bejo teman nya yang paling berani dan beling ( nakal) sambil menujuk pohon mangga yang lebat buah nya .
" Ono opo Di....( ada apa Di ) ??" tanya nya.
" Iku ndelok peleme gede- gede tenan lan ranum- ranum pasti legi rasane ( itu liat mangga nya besar- besar dan ranum pasti manis rasa nya ) " ujar Tukidi sambil melap air liurnya yang menetes.
" Ayo kita panjat lan ( dan) petik wae peleme (petik saja mangga nya ) " ujar nya.
" Ora ah, aku wedhi , omah terbengkalai iku wengit, akeh demite Jo ( ga ah, aku takut, rumah terbengkalai itu angker , banyak setan nya , Jo ) ??" bisik nya dengan takut.
" Ealah iku ( itu ) omong kosong wae ( saja ) , ayo melu aku ( ayo , ikut aku ) !!, kita panjat pagar besine" ajak Bejo dengan nekad .
" Ati- ati , Jo katok mu sing mambu badeg kecantol neng pagar besi (hati- hati celana mu yang bau tidak enak tersangkut di pagar besi , Jo) !!" ledek Tukidi.
" Ojo guyonan toh Di , mengko aku cakar lambe mu sing monyong koyo bebek , hehehe
( jangan bercanda Di, nanti aku cakar mulut mu yang monyong kaya bebek, hehee ) !!" ujar nya.
Mereka memanjat pagar besi yang tinggi dan masuk ke halaman rumah megah terbengkalai.
Suasana di halaman rumah terbengkalai itu sepi dan gelap gulita dengan pohon- pohon besar dan rumput liar tumbuh di sekitar nya , menambah mencekam suasana nya.
" Iki omahe megah lan mewah nanging wingit, hihhh..medeni tenan ( ini rumah nya megah dan mewah tapi angker, hihh..nakutin banget ) !! " bisik Bejo yang penakut.
" Jo, kowe ngenteni aku neng kene wae ( Jo, kamu tungguin aku di sini saja ), aku arep manjat pohon iku mengko kowe tangkap peleme dari bawah
( aku mau manjat pohon itu, nanti kamu tangkap mangga nya dari bawah ) , iki nganggo sarung ku !! ( ini pakai sarung ku ) " kata nya sambil memanjat dengan cepat persis monyet Bon Bin.
" Gendheng, si Bejo manjat pohon peleme prigel tenan ( gila, si Bejo manjat pohon mangga nya terampil banget ) koyo kethek ( kaya monyet ) " ujar Tukidi dengan takjub.
" Oalah , peleme iki gede- gede tenan ( olah, mangga ini besar- besar banget), pelem iki pasti legi rasane " ( mangga ini pasti manis rasa nya ) " gumam Bejo sambil mencium mangga itu dan menelan ludah .
" Jooo..!! Iki tangkap peleme( Jo..ini tangkap mangga nya ) !!" teriak nya dari atas pohon.
" Buggg..bugggg...bugggg...tuingggg...bugggggg......!!"
Bejo dengan sigap menanggapi mangga itu dengan kain sarung.
" Di ..wis angkeh peleme ayo cepet ... mudun lan lunga dari sini ( Di..mangga nya sudah banyak..ayo cepat turun dan pergi dari sini ) !!" kata nya.
" Kosekkk , Di ....!!, misih ono peleme sing gede- gede lan legi ( tunggu ,Di ..!! masih ada mangga yang besar- besar dan manis ) !!" teriak nya.
Tiba- tiba Tukidi mencium bau anyir dan amis darah" Iki mambu opo sih , busuk tenan( ini bau apa sih, busuk banget ) ??" tanya nya sambil menggosok hidung nya .
Bunyi gemerisik dari balik pohon mengejutkan Tukidi , dengan takut- takut ia menoleh kearah pohon kecapi yang tinggi dan rindang.
Di sana berdiri sosok pocong wedon menjulang tinggi setinggi pohon kecapi , ia mundur dan terjatuh kemudian dengan tubuh gemetaran berdiri dan berlari menaiki pagar besi, ia memanjat secepat yang ia bisa " mbokkkk..aku wedi..huhuhuuuhuu, ono pocong wedon ( ibuuu...aku takut ada pocong wedon, huhuuu ) !!" ujar nya dengan suara bergetar dan menangis kejer.
Dengan tubuh gemetaran , Ia melompat keluar dari rumah terbengkalai dan berlari kocar kacir meninggal kan Bejo yang masih berada di atas pohon mangga.
Bejo yang tidak menyadari Tukidi sudah melarikan diri dari sana, masih sibuk memetiki mangga.
" Di ..iki (ini) tangkap peleme (mangga nya ) , ojo tibo iso rungkad peleme ( jangan jatuh bisa hancur mangga nya) !!" teriak nya tetapi Tukidi tidak menjawab, dia melongok kebawah , Tukidi tidak terlihat .
" Di..kowe neng ndhi ( Di..kamu di mana )....?? kok peleme ( mangga nya ) di tinggal, dasar gendheng kowe ( dasar gila kamu) !!" umpat nya sambil turun kebawah dari pohon mangga.
Dia mencari Tukidi tetapi tidak di temukan " dasar gendheng ( dasar gila) , aku di tinggal dhewean ( sendiri) , awas wae tak jitak endase sing peyang ( awas saja aku jitak kepala nya yang peyang ) !! " ujar nya bersungut- sungut.
Tengah membungkus mangga dengan kain sarung, ia mendengar suara langkah kaki menginjak dedaunan kering"nah iku si Tukidi semprul teko ( nah itu si Tukidi semprul datang ) !!" ujar nya dengan kesal .
Ia memanggil nya" Di..kowe ( kamu )dari mana saja yen arep ngising ( kalau mau buang air besar) bilang- bilang !!" teriak nya tetapi Tukidi tidak menjawab hanya terdengar suara kodok yang nyaring memecahkan keheningan malam. " Kong..kong..kong..!!".
Ia menoleh kekiri kanan dan ekor mata nya menangkap sosok putih menjulang tinggi sebesar pohon kecapi berdiri di pojokan pohon kecapi yang gelap gulita, wajah nya yang seram menatap nya dengan marah.
" Asuuuu tenan ( anjing banget) !! semprul, iku pocong wedon aku kudu lari , mengko di ludahi kulit ku iso hangus terbakar..hihhhh........ medeni ( semprul, itu pocong wedon, aku harus lari , nanti di ludahi, kulit ku bisa hangus terbakar , hihh nakuti )" gumam nya dalam hati di liputi perasaan takut.
Dengan mengumpul kan keberanian ia memanjat panggar besi yang tinggi tetapi sial celana nya tersangkut di panggar besi.
" Huhuuuu...apes tenan katok ku kecantol neng pagar besi..piye iki ( huhu..sial amat celana ku kesangkut di pagar besi..bagaimana ini ) !!! " ujar nya sambil menangis kejer.
Ia berusaha menarik celana nya dengan sekuat tenaga tetapi celana nya tidak bisa lepas.
Sementara pocong wedon menyembur kan ludah nya dari mulut nya.
" Aduh gawat iki, aku buka wae, ben wae aku ra nganggo katok daripada aku di ludahi karo pocong wedon iso hangus awak ku (aduh gawat ini, aku buka saja, biar saja aku ga pakai celana daripada aku di ludahi sama pocong wedon bisa hangus tubuh ku) !! " ujar nya sambil membuka celana nya , dengan hanya memakai kaos , ia melompat keluar dari rumah terbengkalai.
" Tolongggg..ono pocongggg wedonnnnnn ( tolong ..ada poconggg wedon)!!! " teriak nya sambil berlari kocar kacir tidak memakai celana karena ketakutan.
Sesampai di rumah ia menggendor- gendor pintu rumah nya , ibu nya yang sudah tertidur pulas terkejut dan melompat dari ranjang nya.
" Mbokkk( ibu).....cepat buka pintu nya, huhuhuuuu!!" teriak nya sambil menangis.
Ibu nya dengan panik membuka pintu dan Bejo menerobos masuk ke dalam rumah, ibu nya terkejut melihat Bejo hanya memakai kaos tanpa celana dalam dan celana pendek.
" Gusti Allah..neng ndhi katok mu Jo, kowe koyo wong gendheng telanjang ngono ( ya Allah kemana celana mu Jo, kamu kaya orang gila telanjang gitu) !!" maki ibu nya dengan marah.
Ia menceritakan celana nya tersangkut di pagar besi rumah terbengkalai saat memanjat pagar besi, ia dan Tukidi masuk ke dalam halaman rumah itu untuk mencuri mangga tetapi bertemu pocong wedon.
" Ben kuapok kowe, mulane ojo beling dadi bocah, untung kowe ra di ludahi karo pocong wedon iso hangus kulit mu kuwi( biar kapok kamu, maka nya jangan nakal jadi anak, untung kamu ga di ludahi sama pocong wedon bisa hangus kulit mu itu ) !!! " maki ibu nya.
Sejak kejadian malam itu Bejo dan Tukidi tidak berani melintas di depan rumah besar dan megah terbengkalai apalagi masuk kedalam halaman nya untuk mencuri mangga.
Komentar
Posting Komentar