Arwah Penasaran Korban Bunuh Diri di Pohon Asam Tua.
Gambar Hanya Ilustrasi Di Ambil Dari Google.
Di pinggiran desa kecil hidup sepasang suami istri yang memilik satu orang anak balita, hidup mereka sangat kekurangan sehingga sering terdengar pertengkaran dari rumah petakan tersebut.
" Mas No, mana cukup uang semene tuk ngidupin aku lan
( dan) anak mu si Temon sing akeh jajane ( banyak jajan nya)" ia mengomel kepada suami nya.
" Sing ( yang) sabar toh Ginah, aku janji nggolek ( mencari) pekerjaan lain " kata suami nya dengan wajah memelas.
Ginah yang cantik ingin berpenampilan modis seperti Menuk tetangga sebelah nya.
" Aku lebih cantik dan body ku lebih montok di bandingkan si Menuk sing lemu ( yang gemuk) , nanging nasibku elek tenan duwe bojo uwong kere ( tapi nasib ku jelek banget punya suami orang miskin), bojone si Menuk nyambut gawe neng kantor swasta mulane dhweke iso dandan modis ( suami si Menuk kerja di kantor swasta makanya dia bisa dandan modis) " gumam nya dengan sedih.
Suatu hari ia di tawarkan pinjaman uang dari Bank keliling tanpa berfikir panjang ia meminjam uang tanpa sepengetahuan suami nya .
" Masa bodoh, piye nyaur utang ku ( masa bodoh, gimana bayar hutang nya) sing penting aku utang wae ( yang penting aku hutang aja) , aku wis bosen urip kere ( aku udah bosen hidup miskin) " gumam nya dalam hati.
Ginah yang tidak pernah memegang uang banyak , lupa daratan dengan uang pinjaman tersebut dan membelanjakan peralatan make up dan pakaian model kekinian serta makanan yang belum pernah ia makan.
Bulan berikut nya petugas Bank keliling datang menagih hutang nya .
" Pak , minggu depan aku bayar hutang ku , nunggu suami ku gajian " kata nya berbohong.
Setiap petugas Bank keliling datang untuk menagih hutang nya ,dia menghindar dan diam- diam kabur melalui pintu belakang.
Suatu hari ketika petugas Bank keliling datang menagih , dia kabur dari pintu belakang tetapi kepergok petugas Bank keliling yang sudah jengkel dengan nya karena kabur- kaburan.
" Arep kabur neng ndhi mbak Ginah, kowe kudu nyaur hutang mu saiki( mau kabur kemna mbak Ginah, kamu harus bayar hutang mu sekarang) !!" bentak nya.
Ginah yang ketakutan berjanji akan membayar hutang nya secepat nya.
" Yen kowe ra nyaur hutang mu minggu ini, omah mu bakalan tak sita , faham kowe ( kalau kamu ga bayar hutang mu minggu ini, rumah mu bakalan di sita, ngerti kamu) !!" ancam petugas Bank keliling.
Dalam kebingungan dia mengatakan kepada suami nya bahwa dia berhutang ke Bank keliling dan bila tidak membayar dalam minggu ini rumah nya akan di sita.
Suami nya terkejut dan marah besar"kowe (kamu) keterlaluan Ginah !!! pakai otak mu dari
mana kita harus membayar hutang- hutang itu , gaji ku saja tidak cukup untuk hidup sebulan , keakehan gaya kowe
( kebanyakan tingkah kamu ) !!!" kata nya dengan emosi.
" Kamu fikirkan saja sendiri hutang mu , jangan bawa- bawa aku, dasar gendheng kowe
( dasar gila kamu) !!!" ujar suami nya sambil membanting pintu kamar nya dengan keras serasa mau rubuh rumah petakan nya .
Anak nya yang masih balita terkejut dan terbangun dari tidur nya menangis dengan keras " uwaaa..uwaaaaaaaa
aaauwaaaaaaaaaaaaaaaaaa.......!!".
Ginah menggendong nya dan menenangkan anak nya.
Malam itu Ginah tidak dapat tidur karena memikirkan hutang nya, ia ingin pergi dari situasi sulit dan masalah yang dirasa tidak mampu dihadapi.
" Bojoku ra ( suami ku ga ) peduli karo ( sama) kesusahan ku, yen ngono ( kalo begitu) aku ambil jalan pintas wae, hiks..hiks...mesake ( kasihan) si Temon misih ( masih) kecil nanging aku ra kuat ( tapi aku ga kuat) menghadapi masalah iki (ini), hiks..hiks..." bisik nya putus asa sambil menangis pilu.
Dengan nekad ia mengambil seutas tali tambang dan perlahan- lahan keluar dari rumah menuju pinggiran hutan yang tidak jauh dari rumah nya.
Malam itu suasana pinggiran hutan sepi mencekam, angin dingin bertiup , cahaya bulan sulit menembus pepohonan yang lebat dan rapat, mencipta
kan bayangan yang menyeram
kan , kabut tipis mengaburkan pandangan.
Pohon-pohon tua dengan cabang-cabang yang meliuk aneh, lumut dan tanaman merambat yang tumbuh liar memberikan kesan angker . Terdengar lolongan anjing dari kejauhan .
Dengan gelap mata ia mengalung kan leher nya dengan seutas tali tambang yang di ikat di dahan pohon asam tua , dalam hitungan menit ia tewas dengan mata melotot dan lidah terjulur keluar.
Pagi hari nya desa tersebut di geger kan dengan penemuan mayat seorang wanita muda gantung diri di pinggiran hutan oleh seorang penebang kayu dengan tubuh gemetaran pakde Samin melihat mayat itu" ealah iku ( itu ) kan mbak Ginah bojone ( istri nya) mas Parno, aku kudu ( harus) ngasih tau " gumam nya dengan suara bergetar ketakutan.
Ia melaporkan ke mas Parno bahwa istri nya gantung diri di pinggiran hutan , dalam sekejap desa itu menjadi geger melihat kejadian tersebut.
Sejak kematian mbak Ginah , desa itu menjadi sunyi sepi tidak ada yang berani keluar rumah pada malam hari apalagi melintasi pinggiran hutan tempat kejadian bunuh diri.
Beberapa penduduk mengatakan mendengar suara rintihan dan tangisan dari tempat tersebut.
Tirto yang beranjak remaja dan sedang nakal- nakal nya mendengar keangkeran tempat bunuh diri mbak Ginah merasa penasaran , ia yang gemar ketempat angker untuk mencari sensasi seram mengajak beberapa teman nya untuk membuktikan kebenaran cerita itu.
" Bro tar malam kita datangi tempat bunuh diri nya mbak Ginah, aku penasaran arep
( mau) buktiin neng kono ( di sana) kata nya wingit ( angker) dan arwah mbak Ginah berkeliaran di sana " ujar nya.
" Cara buktiin nya piye
( bagaimana ) Tir ????agar awakhe dheweke iso ndelok
( agar kita bisa melihat) arwah mbak Ginah sing ( yang) mati penasaran " celetuk beberapa teman nya dengan nekad.
" Kata mbah ku yen awakhe dheweke arep ndelok demit ono carane ( kalo kita mau melihat setan ada cara nya) " kata nya membuat beberapa teman nya tambah penasaran.
" Piye carane ( bagaimana cara nya ) Tir ??, aku penasaran " kata salah satu teman nya.
" Carane ( cara nya ) gampang kowe ( kamu) bungkukan tubuh mu lihat ke belakang di antara dua kaki pasti demit (setan) terlihat jelas " kata nya.
" Hihhh..medeni tenan nanging seru koyone ( hihh, menakutkan tapi seru kaya nya) " ujar beberapa teman nya semakin penasaran .
Malam itu lima remaja yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terkait hal mistis nekad mendatangi tempat dimana mbak Ginah bunuh diri.
Suasana malam di pinggiran hutan yang angker sangat mencekam , dengan cahaya yang minim dari pantulan cahaya bulan dan bintang yang mengintip dari balik dedaunan yang rapat, suara gemerisik angin di deaunan terdengar seperti siulan setan , dari kejauhan terdengar suara lolongan anjing .
" Kro, kata mbahku yen ono suoro ( kata kakek kalau ada suara) anjing melolong artine ono demit neng kene ( arti nya ada setan di sini)" bisik nya.
" Pstt..ojo ( jangan) ngomong sembarang lan ojo meden- medeni kowe, dasar semprul !!! ( dan jangan nakut- nakuti kamu , dasar konyol) !! " bisik teman nya dengan sebal.
" Brrr..udarane anyep tenan yo
( udara nya dingin banget ya) " bisik Sukro merasa tegang.
Pohon asam tua tempat mbak Ginah bunuh diri memiliki tinggi 15 meter dengan batang besar, berkayu keras, dan kulitnya berwarna cokelat keabu-abuan, kasar, dan pecah-pecah berdiri dengan kokoh seperi sosok raksasa memberi kan kesan seram.
" Ayo kita buktikan apakah arwah mbak Ginah masih berkeliaran di sini??" bisik Tirto dengan nekad.
" Nanging aku wedhi Tir ( tapi aku takut Tir) , kowe wae sing buktikan ( kamu aja yang buktikan ) " bisik beberapa teman nya dengan perasaan tegang.
" Piye sih kowe kok mencla mencle ( gimana sih kamu kok ga dapat di percaya ), artine kowe kabeh jirih ( arti nya kamu semua penakut) , payahhh..!!" ujar nya dengan kesal.
Tidak mau di katakan penakut mereka nekad membungkukan tubuh nya membuka kedua kaki nya meihat ke belakang di antara dua kaki nya.
Tiba- tiba angin bertiup dengan kencang dan dengan jelas di bawah pohon asam tua yang rindang terlihat sosok wanita berwajah menyeramkan dengan wajah putih pucat, mata nya cekung merah menyala, rambut nya panjang kusut menutupi sebagian wajah nya , gaun nya putih kumal , tersenyum kearah mereka dengan menyeram kan. " Opo iku..hihhh..medeni tenan rupane ( apa itu..hih menakut
kan banget wajah nya )!!" ujar salah satu teman nya dengan suara bergetar ketakutan.
Ke lima remaja terkejut sampai jatuh nyungsep ( jatuh kedepan) " asemmmmm tenan (sial amat ) raine medeni tenan ( wajah nya menakutkan banget) ..hihh aku wedhi ( aku takut) !! " ujar Sukro dengan suara bergetar, mereka langsung berdiri dengan tubuh gemetaran berlari kocar kacir meninggal kan pinggiran hutan yang angker.
Suara tawa menyeramkan wanita tersebut menembus telinga mereka , mengikuti langkah mereka". "Kikikikikkikiikikkkiiikikkkikkkkkkkkkkkkikikkiiiiikkkkkk ".
Mereka berlari semakin cepat tanpa menoleh kebelakang sampai jatuh bangun .
Sejak kejadian malam itu mereka jera ( kapok) mendatangi tempat tersebut dan arwah mbak Ginah yang mati penasaran masih terus berkeliaran di sana menganggu orang yang melewati tempat kejadian bunuh diri.
Komentar
Posting Komentar