Dua Waria Di Ganggu Genderuwo Penghuni Pohon Sawo Angker .
Gambar Hanya Ilustrasi Di Ambil Dari Google
Di pinggiran Desa yang damai terdapat sebuah pohon sawo tua yang besar dan rindang , konon menurut penduduk setempat pohon sawo tua yang berdahan besar dan berdaun rapat memberikan kesan gelap, mistis serta angker di percaya dihuni oleh sosok genderuwo yang menyeramkan yang memiliki kegemaran mengganggu orang lewat di malam hari .
Bila malam hari tidak ada penduduk yang berani melewati pohon tersebut.
Setiap malam, terdengar suara-suara aneh dari arah pohon, beberapa penduduk setempat mengaku pernah melihat bayangan hitam tinggi besar di antara cabang-cabang pohon, bergerak dengan cepat dan menghilang dalam kegelapan malam .
Suatu malam, mang Soleh pedagang bajigur terpaksa harus melewati pohon itu karena jalan penghubung ke rumah nya berupa jembatan putus terbawa arus sungai .
" Aduh !! kumaha ieu , aing kudu melewati pohon sawo wingitkonon di ditu loba jurigna, hihh aing sieun ( aduh!! gimana , saya harus melewati pohon sawo angker, konon di situ banyak setan nya, saya takut) " gumam nya ketakutan dalam hati.
Ketika melewati pohon sawo yang rindang dengan bentuk pohonnya yang khas, gelap serta sunyi mencekam membuat nya semakin ciut nyali nya( kecil keberanian nya) mulut nya komat kamit membaca doa selamat.
Tiba- tiba angin berhembus dengan kencang ' hihh tiis pisan hawana( hihh..dingin banget hawa nya ) " gumam nya pelan.
Samar- samar terdengar suara halus memanggil nya "mang ..mang.....kadiue..abdi hoyong meser bajigurna ( bang kesini saya mau beli bajigur nya) " .
Dengan tubuh gemetaran dia mencari asal suara tersebut" saha nu manggil aing yah
( siapa yang manggil saya ya) ??" tanya nya keheranan.
" Abdi di dieu mang ( saya di sini bang) " kata nya dengan suara lembut .
Mang Soleh menoleh kebelakang dan terkejut melihat seorang pria muda mengenakan pakaian tokoh wayang berdiri di bawah pohon sawo yang rindang " ieu ujang
(ini anak laki- laki) kok pakaian nya kaya punakawan ( tokoh pewayangan)??" fikir nya keheranan tetapi ia segera menepis fikiran jelek nya.
"Oooo..mungkin dia habis pentas tari , maka nya baju nya kaya kitu ( itu) " gumam nya pelan.
Dia melambaikan tangan nya menyuruh nya untuk mendekat dan berkata " punten, kenging nyuhunkeun ngadamelkeun sajingjingan bajigur (permisi, boleh saya meminta di buatkan segelas bajigur)??".
Samar- samar mang Soleh mencium bau Bakaran ubi ( bau naon eta bau apa ini) ??" gumam nya dalam hati.
Samar- samar mang Soleh mencium bau Bakaran ubi ( bau naon eta bau apa ini) ??" gumam nya dalam hati.
Mang Soleh segera membuat kan segelas bajigur hangat, dan ketika ia menoleh sosok laki- laki tadi telah mengilang dan berubah wujud menjadi sosok genderuwo berbadan besar, kekar, mirip kera, dengan kulit berwarna hitam kemerahan dan tubuhnya tertutup rambut lebat. Sosok genderuwo menyeringai ke arah nya.
Saking kaget nya mang Soleh sampai jatuh terjerembab. " Astagfirullah itu teh..gen..
gen..gendeng......genderuwooo, hihhh, aing sieunnnn ( saya takut).............!!!".
Ia berbalik dan dengan sekuat tenaga berdiri serta berlari kocar kacir mendorong gerobag nya meninggalkan tempat tersebut.
Suara tawa genderuwo menembus telinga nya , suara tawa nya sangat menyeram kan "buahahahahahhaaaahaaaaaa buahaaaaahaaaaaaaaa !!" .
Kejadian mang Soleh di ganggu sosok genderuwo cepat menyebar di Desa nya ,
penduduk semakin ketakutan dan menghindari jalan itu.
Malam itu, dua waria yang baru pulang mangkal nekad melewati jalan itu karena jalan itu yang tercepat untuk mencapai kost- kostan mereka , cuaca mendung , awan hitam menutupi bulan sehingga suasana nya semakin mencekam .
" Cong( banci) emang ga ada jalin ( jalan ) lain selain lewat sini, eike ( gw) takut, konon pohon sawo yang akan kita lalui angker cong sering ada penampakan makhluk halus " ujar Bibah di liputi perasaan takut.
" Kan badan jij gedong( badan kamu besar) masa takut sama setan yang ada setan takut sama jij ( kamu), hehehee " kata Ambarwati asal jeplak.
" Mulut jij ( elu) kalo ngomong sekate- kate ( seenak- enak ) aje ga di ayak, dasar bencong kaleng ( banci abal-abal ) !! " umpat Bibah dengan emosi, wajah nya yang sangar tambah sangar.
" Maafin eike ( gw) cong, cuma bercanda maka nya jij jengon
( maka nya elu jangan) nakut- nakutin eike( gw ) dong!!, jalin ( jalan) sini yang paling dekat kalo jalin ( jalan) lain jauhari
( jauh) cong ( banci) , kekong eike bisa ledes ( kaki gw bisa lecet) , maklum eike ( gw) kan pakai sepetong( sepatu) baru " ujar Ambarwati sambil memperlihatkan sepatu merah high heels nya ( sepatu hak tinggi nya) yang di beli di pasar loak.
Ketika melewati pohon sawo yang rindang, suasana nya gelap serta sunyi, suara daun bergemerisik terasa mencekam.
" Cong jengong lamberta jalin nya (banci jangan lambat jalan nya ), eike takut nih, pertiwi eike ( perut gw ) jadi mules !! " bisik Bibah dengan suara bergetar ketakutan.
" Iya cong ( banci) , tapi kekong eike sekong ( tapi kaki gw sakit) nih jadi eike tinta bisa jalin cepat, rempong luh cong ( jadi gw ga bisa jalan cepat, repot luh banci ) !!! " bisik nya sambil berjalan terpincang- pincang dan meringis merasakan sakit pada kaki nya .
Tengah fokus berjalan, tiba- tiba mereka di kejutkan oleh sosok pria tampan yang sedang berdiri di bawah pohon sawo yang rindang.
" Cong ( banci) , liat tuh di bawah pohon ada lekong kece ( laki cakep) ..ulala kece badai
( sangat keren ) itu lekong eike jadi nepsong (itu laki gw jadi nafsu) nih " bisik Ambarwati dengan wajah mupeng ( muka pengin ) dan melupakan kaki nya yang sakit.
" Najong luh cong ( najis luh banci ) tapi sepong dan ngapain tuh lekong ( siapa dan ngapain tuh laki- laki) malam- malam begini berdiri di tempat sepi dan gelap ??" tanya Bibah keheranan.
" Mungkin deseu lekong gadun nyari betina ( dia laki - laki hidung belang nyari cewek )
, eike ( gw) godain ah !!" bisik Ambarwati dengan genit sambil merapih kan rambut nya yang kaku seperti sapu ijuk.
" Jengon cong, jij gilingan ya , kita capcus aja dari sini (jangan banci , kamu gila ya , kita pergi aja dari sini) perasaan eike ( gw ) ga enak hati nih !!" kata Bibah.
" Bentar aja cong ( banci) , eike mau kenalan deseu gayo ( dia ganteng) banget" bisik Ambarwati keganjenan
( kegenitan), mata nya tidak bisa melihat cowok ganteng.
Mereka mendekati cowok ganteng yang tersenyum menggoda mereka, begitu mereka sampai di bawah pohon, langit mendadak mendung dan angin berhembus kencang dan tercium bau bakaran ubi .
" Kok bau bakaran ubi ya?, kata abah eike ( bapak gw ) , kalo mencium bau bakaran ubi berarti ada genderuwo di dekat sini , atau jangan- jangan ini lekong ( laki) genderuwo yang menyamar jadi lekong gayo
( cowok ganteng) " gumam nya dalam hati mulai di liputi perasaan takut.
" Psttt, cong( banci) kita capcus (pergi) aja yuk " ajak nya tetapi Ambarwati nekad mendekati cowok ganteng itu dan menyapa nya dengan genit." Jij ( kamu) sendirian aja ,eike ( gw) boleh kenalan sama jij ( kamu) ?, eike ( gw) temenin biar tinta ( tidak) sepi" kata nya dengan senyum di kulum.
Laki- laki ganteng itu hanya memandangi nya dengan sorot mata nya yang tajam dan tersenyum , membuat jantung Ambarwati berdebar keras.
Ambarwati mengulurkan tangan nya yang kasar karena bila siang hari ia bekerja sebagai penambal ban , untuk berkenalan dengan laki- laki ganteng itu tetapi tiba- tiba laki- laki itu menghilang dan berubah wujud nya menjadi asap hitam yang tebal meninggal kan bau bakaran ubi.
Belum hilang kaget nya, tiba-tiba suara gemuruh terdengar dari atas pohon sawo dan daun-daun berguguran seperti ada sesuatu yang turun.
Ketika mereka menoleh keatas , mereka melihat sosok hitam besar dengan gigi bertaring dan mata merah menyala menatap mereka serta suara tawa nya menyeramkan memecahkan keheningan malam" buahahaaaaaaaahhhhhaaaaa!!"
Ketakutan melanda mereka dan mereka berlari tunggang langgang kocar kacir tanpa menoleh lagi.
" Gilingan ( gila)!!, mukadima nya ( muka nya) serem banget, ga salah itu lekong ( cowok) genderuwo yang suka mengganggu orang lewat, ayoooo..piur ( pergi) dan lari kesandro cong ( kesana banci) !!!!!!! " teriak Bibah panik dan ketakutan sambil menarik lengan Ambarwati yang ketakutan setengah mati.
" Aduh !! pertiwi eike soraya perucha ( aduh !! perut gw sakit) dan eike mau kencana
( gw mau kencing ) rasa nya , cong ( banci) !!!" kata nya dengan nafas tersengal- sengal sambil memegangi perut nya.
" Jengon lambreta lari nya jij
( jangan lambat lari nya kamu ) , ekie ( gw ) takut di udak- udak
( di kejar) genderuwo itu, bisa metong eike ( mati gw) !!!" teriak Bibah sambil memeper
cepat lari nya.
" Woyyyy.......tungguin , eike
( gw) takut di tomplok sama genderuwo yang badan nya gedung ( besar) dan gegong nya ( gigi nya) tajem kaya gergaji !!" teriak Ambarwati ketakutan setengah mati, ia berlari sampai jatuh nyungsep
( terjatuh kedepan) .
" Eike buka sepetong ( sepatu) aja biar cepat lari nya kekong eike sekong banget ( kaki gw sakit) banget , dasar rempong (repot ) nih sepetong murce
( sepatu murah) !! " ujar Ambarwati sambil melepas sepatu nya dan melempar nya ke got , kemudian ia mengangkat rok nya tinggi- tinggi sehingga terlihat celana kancut nya yang berwarna hijau neon.
Sejak saat itu, dua waria kapok melewati pohon sawo angker tersebut.
Cerita tentang genderuwo penghuni pohon sawo angker tetap menjadi legenda ( cerita yang dianggap benar-benar terjadi) yang menakutkan di Desa itu.
Komentar
Posting Komentar