Memanggil Roh Halus Dengan Menggunakan Boneka Nini Thowong
Gambar Hanya Ilustrasi Di Ambil Dari Google
Di sebuah desa terpencil yang di kelilingi hutan lebat terdapat sebuah rumah kosong terbengkalai, menurut penduduk setempat rumah tersebut angker , bila malam hari sering terdengar suara tawa dan jeritan di sana.
Pada malam bulan purnama, sekelompok anak- anak yang pemberani dan penasaran ingin bermain permainan boneka Nini thowong ( anak perempuan bermuka putih) untuk memanggil roh halus .
" Bro, nanti malam bulan purnama , kita main boneka Nini thowong yuk , pasti seru !!" ajak Suparman yang bertubuh kecil dan berkulit hitam , tetapi yang paling nakal dan pemberani di antara mereka.
" Wah kowe nekad tenan, kowe ngerti ora permainan boneka thowong iku untuk memanggil roh halus ( wah kamu nekad banget, kamu faham ga permainan boneka nini thowong untuk memanggil roh halus) , ojo sembrono kowe iso ciloko( jangan sembarangan bisa celaka) !!" celoteh Sadiman .
" Kowe emang beling Par( kamu emang nakal, Par) !!" kata teman- teman nya dengan sebal.
" Dasar kowe kabeh umpetan
( dasar kamu senua pengecut) koyo cah wedok, apalagi kowe Dir , awak mu wae sing gede (kaya anak perempuan , apalagi kamu Dir, badan mu aja yang besar) koyo gapura kampung nanging umpetan (kaya gapura kampung tetapi pengecut) !!" ejek nya.
" Ojo ngenyek kowe, cah kuntet( jangan menghina kamu, anak kerdil) " balas Kodir dengan sewot .
" Dasar edan kowe cah kuntet ( dasar gila kamu anak kerdil ), kowe sing umpetan ( kamu yang pengecut) ,weeeee !! " ujar beberapa teman nya sambil menjulurkan lidah dengan kesal.
" Ra popo aku kuntet nanging nyaliku gede ( ga apa2 aku kerdil tapi keberanian ku besar) , yen kowe ra umpetan buktikan ( kalau kamu ga pengecut buktikan ), wani ora mainan boneka Nini thowong mengko bengi ( berani ga mainan boneka nini thowong nanti malam) !!" tantang nya.
" Wani wae, neng ndhi main nya ( berani saja, di mana main nya) !!" kata teman nya terpancing emosi, Supar hanya tersenyum saja melihat teman- teman nya termakan umpan nya.
" Di rumah kosong di pinggiran hutan " kata Supar dengan nekad.
" Hihhh medeni tenan ( hih, nakuti banget) , menurut cerito
( cerita) penduduk , omah iku wingit , Par ( rumah itu angker, Par) !!" kata Pardi yang paling pengecut dan beberapa teman nya ketakutan.
" Ah itu kan cuma cerita belum tentu kebenaran nya , neng kono ( di sana ) aman , percoyo karo aku ( percaya sama aku ) " kata Supar lagi.
Malam itu terang bulan,suasa
na nya indah dan menawan.
Dengan membawa lampu senter dan boneka Nini thowong yang terbuat dari batok kelapa yang diberi cat putih dan digambari wajah manusia, tubuhnya terbuat dari kerangka bambu yang didandani pakaian tradisional kain batik, kebaya, selendang, dan stagen yang akan diguna
kan untuk memanggil roh halus
" Aku curi kelambi mbok ku
( baju ibuku) tuk dandani si Ninik Thowong yen ( kalau) mbok ku tau kelambine ( baju nya) aku curi, abis sirah ku
( kepalaku) di getok sampai benjut ( benjol) " kata Gimin .
Mereka menyusuri jalan setapak yang sunyi sepi dan gelap gulita, di kiri kanan nya terdapat semak- semak belukar dan pohon- pohon besar yang batang-batang nya bengkok tampak seperti tangan-tangan manusia yang siap menceng
keram .
Sinar bulan purnama mengintip dari celah- celah daun mencipta
kan bayangan-bayangan aneh , kabut tebal menyelimuti pinggiran hutan, hawa nya menggigit tulang, memberikan
kesan misterius.
" Hihh..iki hutan peteng lan sepi , hawane anyep tenan, brrrrrrr
(hih..ini hutan gelap dan sunyi, hawa nya dingin banget,brrrrr ), meden - medeni tenan ( nakut- nakuti banget) , bulu kuduk ku merinding " bisik beberapa teman nya di liputi perasaan takut .
Tidak beberapa lama mereka sampai di rumah terbengkalai dimana bangunan nya sudah rusak parah , jendela-jendela pecah, cat dinding mengelupas, dan kayu-kayu lapuk.
Atap sudah runtuh menyisakan lubang-lubang yang membuat langit terlihat dari dalam.
Tumbuhan merambat liar menutupi dinding dan menjalar ke jendela serta semak belukar tumbuh subur di halaman yang tak terurus.
Mereka memasuki rumah tersebut, pintu rumah berderit saat dibuka tercium bau lembap dan hawa dingin menerpa , mereka mencari tempat untuk melakukan ritual pemanggilan arwah dengan media boneka Nini thowong.
" Kita duduk di sini saja, aku nyalahkan lilin dan bakar kemenyan dulu " bisik Supar , teman- teman nya merasakan suasana mencekam .
" Awas kowe ojo salah moco mantra nya, iso berabe ( awas kamu jangan salah baca mantra, iso repot) " bisik Kadir.
Supar mendirikan boneka Nini thowong dan berkata " ayo kita berdirikan boneka ini, aku, Sardi
, Wignyo dan Gimin yang memegang kaki Nini thowong" .
" Ujung selendang kiri kamu yang pegang Dir dan ujung selendang kanan kamu yang pegang Min" bisik nya kepada dua teman nya .
"Bro, meski boneka ini ra iso( ga bisa) bicara, ia bisa bicara dengan cara mengangguk yang artinya ya dan menggeleng artinya tidak " bisik Supar lagi .
" Hihhh...medeni tenan, aku wedhi, weteng ku langsung mules arep ngising ( hih..nakuti banget, aku takut, perutku langsung mules mau BAB ) " bisik Sarmin dengan wajah tegang.
" Kalian ojo rame ( kalian jangan berisik), aku arep moco mantra ( aku mau baca mantra) yang aku catat dari buku kuno mbah ku( kakek ku) " bisik nya , mulut nya yang monyong kaya Suneo komat kamit persis dukun amatiran membaca mantra memanggil roh halus.
Tiba- tiba angin dingin berhembus dengan keras, sinar lilin berkedip- kedip.
Selanjut nya boneka Nini thowong tersebut roboh dan terasa berat ketika diangkat untuk di dudukkan di atas tampah.
" Aduhhh abot tenan ( aduh berat sekali ) boneka ini, ayo bantu aku angkat boneka ini, roh sudah memasuki boneka Nini thowong " bisik Supar kegirangan sementara teman- teman nya ketakutan jantung nya berdebar- debar dengan keras.
Samar- samar dalam kegelapan boneka Nini thowong bergerak sendiri , ia mulai menari, mata nya bersinar merah menyala menatap mereka .
Mereka mulai di liputi perasaan takut .
Dari sudut ruangan yang gelap , mereka mendengar suara lembut lirih" menari lah dengan ku, ayo menari dengan ku bocah- bocah beling ( anak- anak nakal), hihihihihiiihiihiiiiiiii
hiiiiiiiiiiii…!!!", seketika wajah mereka menjadi pucat dan mulai ketakutan.
" Hihhh..suoro sopo iku, hih medeni tenan ( hihh..suara siapa itu) , ayo awakhe dhewe metu wae neng kene ( ayo kita keluar dari sini) !!!!!??" ujar beberapa teman nya dengan suara bergetar ketakutan.
" Ayooo...melayuuuuu........ iku suoro demit boneka Nini thowong ( ayoo..pergi itu suara setan boneka Nini thowong) !!"ujar Supar ketakutan, mereka menjerit- jerit ketakutan dan berlari berhamburan keluar rumah tetapi pintu rumah tiba-tiba terkunci sendiri.
Diliputi perasaan takut yang luar biasa, mereka mendorong dan mendangi pintu itu dengan sekuat tenaga,akhir nya mereka dapat keluar dan berlari kocar kacir sekuat tenaga tanpa menoleh lagi sampai terkencing- kencing di celana.
Sejak malam itu, tak seorang pun berani memainkan boneka Nini thowong lagi.
Boneka itu tetap teronggok di sudut ruangan rumah terbengkalai menunggu untuk mencari teman bermain yang berani.
Komentar
Posting Komentar