Ki Dalang Kesurupan Karakter Wayang Kulit si Buto ( Raksasa) .
Di pinggiran Desa yang jauh dari keramaian Kota tinggal seorang Dalang terkenal ber
nama Ki Tular yang handal menggerak kan dan menghidup
kan karakter wayang, karena kepiawaian nya menghidup kan tokoh karakter wayang, banyak undangan untuk mendalang dari Kampung ke Kampung .
Malam Jumat kliwon Ki Tular mendapat undangan untuk mendalang di Kampung sebelah yang terkenal angker karena pernah terjadi bencana banjir di sana , konon arwah penduduk yang tewas terbawa arus banjir masih sering terlihat berkeliaran di Kampung mengganggu Warga di sana .
" Mboke , aku ono undangan ndalang neng ( bu, aku ada undangan ndalang di) Kampung sebelah nanging apese ( tapi sial nya) pentas wayang di adakan malam Jumat kliwon medeni tenan ( nakuti banget) " kata nya kepada istri nya mbok( ibu) Pariyem.
" Nek koyo ngono ( kalau kaya begitu) ra usah di juko gawean iku pak'e ( ga usah di ambil kerjaan itu pak) , menurut cerito warga setempat neng kono angker lan akeh demite (disana
angker dam banyak setan nya ) " kata istri nya dengan perasaan kawatir .
" Nanging aku ra kepenak karo pak Kades ( tapi aku ga enak sama pak Kades) , selama ini dheweke baik karo aku, mboke
( dia baik sama aku, bu ) " kata suami nya.
" Yo, wis terserah kowe wae pak'e nek kowe nekad (ya, sudah terserah kamu aja kalau kamu nekad) , sing penting kowe kudu hati- hati ( yang penting kamu harus hati- hati ) ojo lali ( jangan lupa) berdoa sebelum pentas " pesan istri nya.
Malam itu hujan gerimis , Ki Tular berangkat bersama tiga sinden ayu yang bertubuh montok .
Setengah jam mereka sudah sampai di tanah lapang tempat pentas wayang kulit akan di gelar.
Pak Kades yang terkenal mata keranjang terlihat gembira melihat kedatanga Ki Tular memenuhi undangan nya apalagi membawa tiga sinden ayu yang bertubuh montok.
" Sugeng rawuh ( selamat datang) , Ki Tular di Kampung kami" sapa pak Kades dengan wajah sumringah , ia juga menyalami tiga sinden ayu . "Oalahhh ayu - ayu tenan sindene lan mambu awake wangi tenan ( oalah cantik- cantik sinden nya dan aroma tubuh nya harum) , ra koyo bojo ku mambu perengus ( ga kaya istriku bau kambing) andai
aku duwe bojo koyo ngene
( andai aku punya istri kaya ini ) , ati ku tentrem lan kerasan neng omah, ( hati ku tenang dan betah di rumah ) heheheee, tak keloni saban dino ( tiap hari) " gumam nya dalam hati sambil menelan ludah melihat tiga sinden bertubuh montok.
Penonton dari anak kecil, muda sampai dewasa dengan antusias ( semangat) duduk melingkar di tikar menunggu pentas wayang kulit di gelar, obor di nyalahkan dan di tancapkan di pagar .
Ki Tular yang peka dengan hal gaib merasakan lingkungan tanah lapang terasa tidak nyaman, udara nya dingin menggigit tulang membuat bulu kuduk nya merinding tanpa sebab yang jelas, pohon bambu yang rimbun tumbuh di sekitar nya, ia merasakan banyak mahluk halus mengawasi dari sudut gelap seakan - akan ingin ikut menonton pagelaran wayang kulit.
Ki Tular beserta rombongan segera menaiki panggung , penonton bersorak sorai kegirangan menyambut mereka.
Tiga orang sinden nya yang ayu mengenakan kebaya ketat brokat merah tembus pandang di padu dengan kain batik berwarna coklat.
" Biyuh..biyuh..ayu- ayu tenan sindene ( cakep- cakep sinden nya) apalagi body nya montok lan kulite putih tenan ( tubuh nya montok dan kulit nya putih banget) , ckckckckkkkk , aku ra kuat nek koyo ngene ( aku ga kuat kalau kaya begini) " bisik Poniman ke teman nya Bejo sambil menjepit kedua paha nya, mata nya tidak berkedip memandangi tiga sinden yang ayu dan montok tubuh nya.
" Nek kowe ra kuat ( kalo kamu ga kuat) jepit wae manuk mu
( jepit saja burung mu) di sela- sela cabang pohon bambu, hua huahahaaa !!" ledek Bejo sambil tertawa ngakak.
" Asem kowe..Jo ( sialan kamu ....Jo) , kowe kiro manuk ku terbuat dari wesi ( kamu kira burungku terbuat dari besi), dasar kenthir kowe ( dasar gila kamu ) !!!" sahut nya dengan kesal.
Ki Tular mulai memainkan wayang kulit di balik layar putih (kelir) yang disorot lampu, diiringi gamelan dan nyanyian tiga orang sinden yang merdu.
Tema wayang kuit malam itu
Kisah Mahabharata yang sarat ( penuh ) dengan pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan.
" Bakalan ramai iki ceritone ( ini cerita nya) temane Mahabarata , ono tokoh sing jahat si buto jenenge (ada tokoh yang jahat si raksasa nama nya )" celoteh Paijan sambil makan ubi rebus yang di bawa dari rumah nya.
" Heh ..Jan kowe ojo akeh- akeh mangan ubi mengko weteng mu kembung lan ( jangan banyak- banyak makan ubi nanti perut mu kembung dan ) kepentut- pentut mestine mambune ( kekentut- kentut pasti bau nya) busuk koyo
( kaya) bangkai " kata Joko mengingatkan nya.
" Nek aku kepentut- pentut lan mambune badeg , anggap wae obat anti ngantuk ( kalo aku kekentut- kentut dan bau nya busuk, anggap aja obat anti ngantuk ), hehehe" sahut nya.
Cerita berlangsung dengan seru apalagi gerakan wayang kulit yang di gerakan selaras dengan irama musik gamelan dan nyanyian sinden dan ki Tular mampu mengubah suara nya sesuai karakter wayang kulit yang di main kan, suara berat untuk raksasa dan suara halus untuk ksatria .
Saat Ki Tular menggerakan wayang Buto (raksasa)
Werkudara, nada suaranya berubah bukan lagi suara Ki Tular tetapi suara nya serak dan berat , bergetar seperti ada dua suara yang bertarung di dalam nya.
Penonton saling pandang merasa ada sesuatu yang tidak beres begitu juga tiga orang sinden nya saling lirik dengan perasaan di liputi ketakutan.
" Kok malam ini suara Ki Tular terasa aneh ya , suara karakter buto (raksasa ) terdengar menyeramkan koyo dudu suoro ( kaya bukan suara ) Ki Tular " bisik salah satu penonton .
" Ojo meden- medeni kowe
( jangan nakut- nakuti kamu) " bisik penonton lain nya di liputi perasaan takut .
Tokoh-tokoh wayang yang digerakkannya tidak lagi mengikuti naskah, gerakan nya dinamis tidak beraturan.
Tiga orang sinden saling berbisik " koyone ( kaya nya) Ki Tular kesurupan yo ( ya)??" bisik salah satu sinden di selimuti ketakutan .
Penonton wanita dan anak - anak di liputi ketakutan " mbok ayooo..mulih wae..aku wedhi
( bu pulang saja aku takut) dalange dadi seremmm koyo demit ( dalang nya jadi serem kaya setan), hua..hua..hua..!!!" teriak seorang anak menangis ketakutan sambil memeluki ibu nya .
Karena ketakutan beberapa penonton pulang meninggal
kan tempat itu .
Ki Tular berusaha keras melawan roh yang menyusup ketubuh nya, kepala nya terasa pening dan mata nya berkunang - kunang, ia melihat sekeliling nya , banyak makhluk halus yang wajahnya menyeram
kan ikut menonton dari atas pohon .
Penonton merasakan hawa dingin menerpa tubuh mereka dan obor-obor berkedip- kedip cahaya nya meredup membuat suasana semakin mencekam .
" Jo..aku wedhi mulih wae yo
( Jo, aku takut pulang aja ya ) !!" bisik teman nya mengajak Bejo pulang tetapi Bejo yang bernyali besar ( memiiliki keberanian besar) tetap bertahan di sana.
Ketika adegan mencapai puncak pertarungan antara ksatria dan raksasa, tiba- tiba Ki Tular melempar wayang kulit nya , ia bergulingan di atas panggungg kesana kemari dan tertawa terbahak- bahak , suara tawa nya menyeramkan.
" Buahahahahhaaaaa..buahaha !!"." Minggat( pergi) kalian.....
berisik, aku merasa terganggu nek ra minggat kowe kabeh tak pateni ( kalo tidak pergi kamu semua saya matiin ) !!!" teriak nya , wajah nya pucat seperti kertas putih dan tatapan mata nya nanar serta tajam menatap penonton yang menggigil ketakutan .
Tiga orang Sinden berteriak-
teriak ketakutan " Gusti Allah !!, Ki Tular kesurupan, ayo cepat mudun (turun ) dari panggung, aku wedhi ketendang bokong ku iso bodol (aku takut ketendang pantat ku bisa jebol ) !!" , dan para pemusik yang panik ikut turun dari panggung "cepat..lari Ki Tular kesurupan wayang Buto ( raksasa ),hihhh
medeni tenan ( menakutkan banget ) !! " teriak pemain musik gamelan ketakutan.
Salah satu sinden bernama mbak Jem dengan tubuh gemetaran karena ketakutan tidak dapat berdiri .
" Mbak Jem kok kowe malah lunggoh neng kono ( kok kamu malah duduk di sana) , ayo mudun kowe arep di gebug
( ayo turun kamu mau di pukul) ??!!" teriak pemain gamelan keheranan melihat nya.
" Sikil ku lemes ra iso berdiri
( kaki ku lemas ga bisa berdiri) tulung ( tolong) aku mas To !! " kata nya dengan suara bergetar ketakutan.
Dengan terpaksa pemain gamelan yang bertubuh kerempeng ( kurus) harus menggendong nya di punggung nya.
" Asem tenan ( sial amat) !! , abot tenan awak mu ( berat banget tubuh mu) mbak Jem koyo karung beras ( kaya karung beras) , nafas ku koyo arep pedot ( nafas ku kaya mau putus), kowe mangan opo seh
( kamu makan apa sih) !!! " kata nya dengan nafas terengah- engah.
" Ayo mas mudun , ojo ngoceh wae, cepet mudun (ayo mas turun, jangan ngomong saja, cepat turun)dari panggung
ini !!!" teriak mbak Jem ketakut
an melihat Ki Tular mengamuk.
Kelakuan Ki Tular semakin tidak terkendali , ia menendangi peralatan musik dengan membabi buta .
Penonton panik dan berlari menjauhi panggung , takut ketiban gendang dan alat musik lain nya yang di lempar dari atas panggung.
"Oalahhh !! medeni tenan demit sing nyusup ketubuh nya
( menakutkan banget setan yang memasuki tubuh nya) ..woiiii lari iso ringsek awak lan benjut endas awakhe dhewe
( bisa rusak badan dan benjol kepala kita ) nek ( kalo) ketiban gendang atau gamelan !!!" teriak salah satu penonton dengan panik.
Pak Kades segera menyadari Ki Tular kesurupan hantu yang ada di sekitar sana ,ia memanggil orang pintar, Kiai Brojo untuk mengobati nya .
Kiai Brojo segera beranjak ke atas panggung, membaca doa- doa di dekat telinga nya tetapi roh yang merasuki tubuh nya bukan sembarang roh.
Ia malah di tempeleng ( di pukul) wajah nya oleh Ki dalang " asem tenan iki demit (sial banget ini setan), rai ku di tempeleng rasano senut- senut ( muka ku di pukul rasa nya nyut- nyutan ) !!" umpat nya dengan marah.
" Buahahaaaahaa, kapok kowe rep ngopo kowe ( kapok kamu, mau apa kamu)? arep ( mau) mengusir ku dari awak ( tubuh) dalang semprul iki( konyol ini) ,buahahahahahaaaaaa, dasar
manungsa( manusia) bodoh, minggat kowe saiki uga nek ra minggat tak pateni ( pergi kamu sekarang juga kalo tidak pergi saya matiin) !"bentak nya, mata nya yang merah menatap nya dengan tajam.
" Ayo ..lawan aku nek wani, demit semprul ( ayo lawan aku kalo kamu berani setan konyol )!!" bentak kiai Brojo memasang kuda- kuda yang kuat dan menjaga jarak kawatir terkena gaplokan nya ( pukulan nya) yang maha dahsyat .
Mereka berduel dengan sengit saling piting, saling pukul saling tendang, saling tangkis , saling banting ,beberapa kali kiai Brojo yang bertubuh gemuk pendek terkena tendangan nya yang maha dahsyat sampai jatuh nyungsep dan menggelundung seperti buntelan ( gulungan) kasur .
" Asem tenan iki demit ( sialan
banget ini setan) , awak ku di dadikan koyo bola di sepak kesana kemari , iso remek awak ku ( badan ku di jadikan kaya bola di tendang kesana kemari, bisa rusak badan ku , ra iso di menengi iki demit semprul
( tidak bisa di diamin ini setan konyol ) kudu ( harus) aku bakar karo ayat pembakar jin , ben ( biar) kapok kowe ( kamu) !!! " gumam nya dalam hati nya dengan marah .
Ia membaca ayat-ayat suci pembakar jin dan setan , Ki Tular berteriak - teriak kelojotan kepanasan " ampoooonn !! ojo
( jangan) bakar aku , manungsa ( manusia) bodoh, arghhhhhh
hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !!!" .
Makhluk itu menggeram berusaha melepaskan diri, tubuh nya menggeliat seperti cacing kepanasan, Kiai Brojo tidak memberi ampun mulut nya tidak berhenti komat kamit membaca doa.
Akhir nya Ki Tular jatuh tersungkur dengan tubuh lemas, kiai Brojo memercikan air yang sudah di bacakan mantera ke wajah nya.
Tidak beberapa lama ia tersadar dengan wajah kebingungan.
Sejak kejadian kesurupan malam itu, ia tidak mau menerima tawaran mendalang di Kampung sebelah yang terkenal angker.
Dan menjadi pelajaran bagi nya dan rombongan nya , setiap mendalang , ia harus meminta izin dahulu dan membaca doa selamat agar pertunjukan yang akan di gelar berjalan dengan selamat dan lancar.
Komentar
Posting Komentar