Menikahi Perempuan Bahu Laweyan ( Tompel Di Bahu) Pembawa Petaka.
Di pinggiran Desa terpencil hidup seorang perempuan paruh baya bernama Larasati , di kenal sebagai perempuan bahu laweyan, menurut mitos Jawa perempuan bahu laweyan memiliki tanda lahir/ tompel sebesar koin di bahu kiri nya di yakini di isi oleh mahluk tak kasat mata berjenis ular dan bila di nikahi dipercaya dapat mendatangkan malapetaka di mana pasangan nya dapat meninggal secara mendadak atau mendapat kesialan.
Semasa muda nya , Larasati yang cantik dan montok adalah kembang Desa di Kampung nya, dia pernah menikah 3 kali tetapi semua suami nya meninggal dunia secara mendadak dan tragis di bunuh oleh mahluk tak kasat mata berjenis ular yang cemburu kepada ke 3 suami nya , mahluk tersebut bersemayam di tanda lahir nya / tompel nya di bahu kiri .
Larasati muda yang saat itu berusia 17 tahun di paksa menikah oleh ayah nya yang matrealistis dengan pria paruh baya bernama bapak Martaka ,seorang pengusaha sembako terkaya di Desa nya tetapi sudah memiliki tiga orang istri.
Pak Martaka yang doyan kawin cerai datang melamar Larasati melalui ayah nya bapak Handoko, yang dengan senang hati menerima lamaran nya tanpa memperduli kan latar belakang kehidupan nya yang gemar kawin cerai .
Dia yang bernasib malang hanya dapat menangis di pelukan ibu nya yang tidak berdaya untuk menolong nya . "Ibuuu..tulung ...aku ra gelem
( tolong aku ga mau ) menikah karo ( sama) bandot tua sing
( yang ) doyan kawin cerai , lebih baik aku mati wae ( saja), huhuhuhuuuu !!" kata nya sambil menangis pilu.
" Nduk , kowe mesti manut karo bapak mu yen kowe melawan mengko kowe kualat
( nak, kamu harus menurut sama bapak mu kalau kamu melawan nati kamu kualat) " kata ibu nya menasehati nya.
Sebulan kemudian pesta pernikahan di gelar dengan meriah , acara pernikahan di ramaikan dengan pertunjukan wayang kulit yang di gelar semalam suntuk .
Sebagai mahar pernikahan nya, pak Martaka memberikan hadiah berupa rumah mewah beserta isi nya sedang ayah nya yang materialistis di beri hadiah sebidang tanah.
Malam semakin larut pertunjukan wayang kulit masih berlangsung dengan seru, penduduk Desa tumpah ruah menonton pertunjukan tersebut.
" Dik..ayo melebu neng kamar, iki wis bengi ( dik, ayo masuk kamar ini sudah malam)" bisik pak Martaka di telinga Larasati yang merasa mual mencium bau nafas nya yang berbau jamban ( WC ).
" ihhh..gilani tenan cangkeme mambu kakus ( ih..menjijikan banget mulut nya bau toilet) , aku arep muntah ( aku mau muntah) " gumam nya dalam hati dengan perasaan jijik.
" Kosek ( tunggu) , pertunjukan wayang golek durung rampung ( belum selesai) pak " kata Larasati mencoba menghindar
" Pertunjukan iki di gelar sampai sesok (pertunjukan ini di gelar sampai besok ), aku wis ra tahan arep turu karo kowe, cah ayu ( aku sudah ga tahan mau tidur sama kamu, anak cantik ) , hehehe " bisik nya sambil mencolek pipi nya yang halus mulus.
" Aduhhh, weteng ku dadi mules..gilani tenan..elek tenan nasib ku iki kudu turu karo bandot tua ( aduh ,perutku jadi mules ..jijikin banget ..jelek banget nasib ku ini harus tidur sama kambing tua ) " gumam nya dalam hati dengan sedih.
Dengan terpaksa Larasati mengikuti nya masuk kekamar, salah satu penonton wayang kulit berbisik- bisik kepada teman- teman nya .
" Eunak tenan dadi pak Martaka wis tuo entuk bojo enom, ayu lan monthog ( enak banget jadi pak Martaka sudah tua dapat istri muda, cantik dan montok ) , ckckckckckkk ..aku dadi ngiler delok bojone sing ayu tenan
( aku jadi ngiler melihat istri nya yang cantik banget) !! " .
" Mulane kowe dadi wong sugih ben enthok bojo ayu lan monthog koyo si Laras ( maka nya kamu jadi orang kaya biar dapat istri cantik dan montok kaya si Laras) , nompo kenyataan wae bojo mu si Yati irunge pesek lan gembrot koyo ban dalem truk ( terima kenyataan saja istri mu si Yati idung nya pesek dan gemuk kaya ban dalam truk), hua
huahaaahuahahahaha !!" ledek salah satu teman nya sambil tertawa terbahak- bahak .
" Ojo ngenyek kowe ( jangan meledek kamu) , bojo mu uga gembrot koyo karung kentang bosok ( istri mu juga gemuk kaya karung kentang busuk) , dasar kenthir kowe ( dasar gila kamu) , tak gebug kowe mental neng kuburan tua ( aku pukul mental ke kuburan tua) " ujar nya dengan kesal.
" Hussshh..ojo rame kowe berdua ( jangan ribut kamu berdua ) , ganggu penonton sing liani ( ganggu penonton lain nya) sesama duwe bojo gembrot ( sesama punya istri gemuk) koyo bongsang sing akur wae( kaya keranjang yang akur saja), huahaaaaa !!! " ledek teman lain nya.
Sesampai di kamar pak Martaka yang sudah tidak dapat menahan hawa nafsu nya langsung mengunci pintu kamar dan memadamkan lampu kamar, Larasati yang ketakutan duduk di pinggiran tempat tidur dengan tubuh gemetaran.
" Dik..merene ( dik kesini) ..aku wis ra tahan nih ( aku sudah ga tahan nih) " kata nya sambil menarik tangan nya yang putih mulus.
" Ojo ( jangan) sentuh aku, aku wedhi ( takut) pak " bisik nya dengan suara bergetar ketakutan.
" Hehehe..ojo wedhi karo aku
( jangan takut sama aku) mengko uga kowe kepenakan malah nagih ( nanti juga kamu keenakan malah nagih )percoyo karo aku ( percaya sama aku) yang sudah pengalaman lan prigel iso nggawe kowe kepenak (yang sudah pengalaman dan cekatan bisa membuat kamu keenakan) " bisik nya sambil memeluki nya dari belakang, nafas nya memburu seperti opelet tua.
Larasati merasa jijik dan menghindari nya " ojo bengi iki, aku durung siap pak ( jangan malam ini, aku belum siap)pak !! "protes nya sambil mendorong tubuh gemuk pak Martaka yang keringat nya badeg bau nya ( tidak enak bau nya) .
" Siap ora siap kowe kudu melayani aku saiki uga ( siap ga siap kamu harus melayani aku sekarang juga), aku iki bojo mu ( aku ini suami mu) !!" kata nya dengan emosi.
Pak Martaka yang nafsu nya sudah di ubun- ubun merasa emosi dan dengan kasar menarik pakaian nya " brettttttt !!" , pakaian nya terbuka terlihat jelas kulit nya yang putih mulus.
Bagaikan singa ompong kelaparan pak Martaka melompat dan memeluki nya serta menciumi nya dengan nafsu tetapi alangkah terkejut nya ketika melihat ada tanda lahir / tompel sebesar koin di bahu kiri nya " medeni tenan
( menakut kan banget) !!, itu kan tanda lahir yang di sebut bahu laweyan, kata mbah kung ku ( kakek laki - laki ku)
perempuan bahu laweyan pembawa kutukan kematian bagi suami-suaminya " gumam nya ketakutan dalam hati.
Tetapi nafsu nya yang besar mengalahkan ketakutan nya .
" Ah, nanging aku ra percoyo iku cuma mitos wae ( tapi aku ga percaya itu cuma mitos aja) , sing penting bengi iki aku kudu iso ( yang penting malam ini aku harus bisa) menikmati tubuh mulus lan monthog nya
( dan montok) , hmmh !!" gumam nya dalam hati.
Ia menindih tubuh Larasati yang tidak berdaya melawan tenaga dan hawa nafsu nya yang kesetanan , membuat Larasati kewalahan dan aroma tubuh nya yang bau wedhus/ kambing membuat nya mual , semakin ia meronta- ronta semakin beringas perlakuan pak Martaka kepada nya , ia hanya bisa pasarah dan menangis tersedu- sedu " hiks..hiksssss...
hikssa..ojo pak, aku ra sudii..." rintih nya dengan memelas.
Selama dua bulan menikah dengan pak Martaka ia kewalahan melayani nya, hampir setiap malam pak Martaka yang sudah tua tetapi memiliki tenaga dan nafsu yang besar meminta di layani.
Di suatu pagi buta , pak Martaka yang segar bugar meninggal secara mendadak, seluruh tubuh nya kaku dan membiru dari mulut nya keluar busa.
Ketiga istri nya terkejut dan menangis nya, mereka tidak menyangka pak Martaka akan pergi secepat itu karena setahu mereka ia tidak memiliki penyakit yang serius .
Sebenar nya kematian nya tidak wajar , tetapi terjadi sebagai kutukan yang melekat pada diri Larasati.
Dengan kematian suami nya , Larasati merasa bahagia " akhir nya si bandot tua sing gilani
( yang menjijikan) nafsu nya , modhar uga ( mati juga), rasano ben kuapok kowe ( rasain biar kapok kamu) , aku bebas saiki
( sekarang) !! " gumam nya dalam hati namun ayah nya yang matrealistis merasa sedih karena kehilangan sumber uang dari pak Martaka .
Tidak lama mejanda , ia di pinang kembali oleh serorang duda pengusaha angkot bernama bapak Hadi yang sudah berumur .
" Pak aku durung siap rabi meneh ( pak aku belum siap menikah lagi ) " kata nya kepada ayah nya .
" Ra baik dadi rondo ( ga baik jadi janda) terlalu lama, pak Hadi wong sugih ( orang kaya) , urip mu bakalan seneng ( hidup mu bakal seneng ) " kata bapak nya tidak memperdulikan perasaan nya , ia hanya dapat tertunduk degan sedih.
Pernikahan mereka tidak berlangsung lama , seperti suami nya yang terdahulu suami kedua nya meninggal secara mendadak yang tidak dapat di jelaskan secara medis.
Peduduk Desa mulai bergosip "jangan- jangan si Laras iku perempuan bahu laweyan, hihhh..medeni tenan ( si laras itu perempuan bahu laweyan
..hih menakutkan banget) .
" Bahu laweyan iku opo mas
( bahu laweyan itu apa mas) ??" tanya salah satu penduduk keheranan .
" Bahu laweyan, perempuan yang mempunyai tanda lahir sebesar koin di bahu kiri nya pembawa petaka, siapapun yang menikah dengan nya akan meninggal secara mendadak " kata nya .
" Hihhh..medeni tenan.......
( menakutkan banget) !! " ujar salah satu penduduk yang merasa merinding bulu kuduk nya .
Setengah tahun menjanda ia di pinang kembali oleh seorang perjaka tampan , kali ini Larasati benar- benar jatuh cinta dengan pria tersebut yang bekerja sebagai staf kelurahan.
Ayah nya tidak menyetujui pernikahan tersebut karena calon suami nya hanyalah staf biasa yang tidak kaya raya .
Meskipun suami nya tidak kaya raya, pernikahan mereka di warnai dengan kebahagiaan, tetapi kebahagian tersebut tidak berlangsung lama .
Suatu hari sepulang kerja suami nya mengalami kecelakaan , motor nya di serempet oleh truk dan ia tewas di tempat.
Para penduduk semakin heboh ( geger ) dan yakin Larasasti adalah perempuan bahu laweyan pembawa petaka .
Dalam kesedihan nya ia mendatangi orang pintar yang mengatakan bahwa ia perempuan bahu laweyan pembawa petaka .
" Sosok gaib yang bersemayam di tanda lahir mu itu selalu membuntuti mu menjadi penyebab utama kematian tragis suami - suami mu " kata pak Kyai.
" Bantu aku untuk menghilang kan kutukan ini , pak Kyai " pinta nya dengan wajah memelas.
" Ra semudah itu, kowe kudu rabi 7 kali disik ( ga semudah itu, kamu harus menikah 7 kali dulu) lan ( dan) bila 7 pria sudah menjadi korban mu maka kowe kudu di ruwat
( kamu harus di bersih kan) sebelum menikah untuk yang ke 8 kalinya, untuk membersih
kan sisa-sisa energi negatip yang ditinggalkan setan yang bersemayam dalam tubuh mu dan Insya Allah kowe ( kamu) akan menjadi normal kembali dan bisa membina rumah tangga seperti wanita pada umumnya !!! kata nya lagi menjelas kan dengan panjang lebar .
" Gusti Allah, apes tenan nasib ku ( ya, Allah sial amat nasib ku ) hiks..hiks..hiks " kata Larasati menangis dengan pilu .
" Apakah kamu sanggup menjalani ritual itu ??" tanya pak Kyai.
" Aku belum tahu apakah aku sanggup bila harus menikah sampai 7 kali, hiks..hiks..hiks
hiksshiksssss... " kata nya pelan sambil menangis sesenggukan .
Sejak kematian suami ketiga nya yang meninggal secara mendadak dan tragis tidak ada lagi yang berani meminang nya meski Larasati sudah menjadi seorang janda yang kaya raya karena peninggalan harta para suami nya yang terdahulu.
Para pria takut menjadi tumbal berikut nya. Larasati yang malang bekas kembang Desa menghabisi masa tua nya dalam kesendirian dan kesepian karena kutukan di tanda lahir nya yang terus membuntuti nya.
@
Komentar
Posting Komentar