Penari Jaipongan Penggoda Laki- Laki Hidung Belang.
Di sebuah desa yang tenang tinggal seorang penari yang cantik jelita bertubuh montok bernama Embun Wati yang di kenal sebagai penari jaipongan yang mahir menari dengan gerakan nya yang energik dan memadukan kan teknik gerakan tangan dan kaki yang cepat seperti goyangan dan geolan pinggul nya .
Bila ia sudah bergoyang dan bergeal geol dengan pinggul nya yang besar dan bulat , para penonton khusus nya kaum laki- laki menahan nafas karena tidak kuat menahan hawa nafsu syahwat nya yang sudah naik ke ubun- ubun.
" Kehed sia...aing teu kuat kalo liat geolan pinggul na ( sialan gw ga kuat kalo liat goyangan pinggul nya ) , sirah aing lieur euy (kepala gw pusing)" gumam aki-aki( kakek- kakek) bertubuh gemuk sambil mengempit kan
( marapat kan ) kedua paha nya.
" Dasar gelo ( dasar gila), aki- aki cunihin ( kakek- kakek genit) , tos bau tanah wae (sudah bau tanah ) , otakna mesum ( otak nya kotor) " bisik salah satu penonton perempuan kepada teman nya dengan sebal.
Embun Wati sering tampil di berbagai acara untuk menghibur warga desa dan banyak memiliki penggemar terutama kaum laki - laki yang tergila- gila dengan kecantikan, kemontokan tubuh nya serta kemahiran nya menari Jaipongan
Salah satu penggemar berat nya kang Cepi pemilik toko sembako terbesar di Desa nya , yang kerajingan menonton tampilan nya , di manapun Embun Wati pentas ia akan menonton nya.
Malam itu ia akan pentas di Desa tetangga, sore hari kang Cepi bersiap- siap menonton pentas tari Jaipongan.
" Hayang kamana kang ( mau kemana kak), tumben rapih pisan dandanana ( rapih banget dandanan nya )?" tanya istri nya yang judes bertubuh gemuk pendek dengan rasa curiga.
" Urang hayang ketemu ( saya mau ketemu) teman usaha di Desa tetangga " sahut nya berbohong sambil menyemprot kan parfum yang di beli di pasar tumpah keseluruh tubuh nya membuat yang mencium aroma nya pasti bangkis- bangkis .
" Masa ketemu teman usaha , wangi pisan ( amat), maneh teu ( kamu ga) bohong kan ??, teman usaha akang, lalaki
( lelaki ) atau awewe
( perempuan) ??" tanya nya curiga.
" Lalaki lah ( lelaki lah ), namina ( nama nya ) kang Asep, maneh teh tong curiga jeng urang , urang teh nyaah ka maneh (kamu ga usah curiga sama saya, saya sayang kamu), ieu aya ( ini ada) uang buat jajan bakso jeung ( sama ) si Pepen " kata nya sambil memberi uang dua ratus ribu agar istri nya cepat pergi dari sana .
Melihat uang dua ratus ribu istri nya kegirangan dan segera pergi meninggalkan nya.
" Heheheee..urang bere dua ratus ribu ( saya beri dua ratus ribu) , langsung cicing ( diam) si buntelen kentut Kokom, maneh tong nyaho urang hayang nongton( kamu ga tahu saya mau nonton ) si Embun Wati nu geulis ( yang cantik) pentas " gumam nya dalam hati.
Sesampai di lokasi tempat pentas tari Jaipongan, suasana nya sudah ramai di penuhi penonton dan pedagang, segala macam jajanan tumpah ruah di sana dari bakso, siomay, cilok, rujak , es, sempol ayam, laksa dan masih banyak lagi .
Beberapa pedagang menjaja
kan dagangan nya" es..es..
potong..es potong ...di meuli rasana amis seger ( di beli rasa nya manis seger ) !!! " ujar nya menawarkan dagangan nya dengan semangat.
" Ambuuu...meuli eta..es potong ( ibu beli itu es potong) !!" teriak bocah ke ibu nya.
" Tong meuli es nanti maneh teh gohgoy ( jangan beli es nanti kamu batuk )!!" kata ibu nya melarang dan bocah itu menangis meraung- raung suara nya nyaring seperti sirene ambulan menuju ruang UGD memekak kan telinga.
" Tobat pisan..sora ceurikna matak budeg ceuli ( ampun banget..suara nya bikin budeg) !!! " celetuk bapak- bapak setengah tua sambil menutup telinga nya .
" Husshhh !! cicing maneh , tos meuli es ( hush..diam kamu.. sudah beli es ) , kalau maneh gohgoy ( kalo kamu batuk ) , ambu cubit pingping maneh
( ibu cubit paha kamu) !!" semprot ibu nya dengan kesal.
Hari itu semua ibu - ibu kebobolan kantong nya , anak- anak mereka meminta jajan tidak ada henti nya , para pedagang tersenyum ceria sedang ibu- ibu tersenyum kecut ( asam).
" Apes pisan, duit urang beak
( sial amat, duit saya habis ) !!" sungut beberapa ibu- ibu dengan wajah memelas.
Tengah menikmati jajanan , para penonton di hebohkan dengam kedatangan Embun Wati, yang malam itu berdandan cantik, eyeshadow
nya berwarnah kuning keemasan, pipi nya yang montok di beri blush on ber warna merah , eyeliner hitam dan bulu mata palsu membingkai mata nya yang jeli dan besar, ia juga memakai lipstik merah menyala di bibir nya yang tebal dan seksi.
Bentuk alis nya seperti semut beriring di bubuhi pensil alis berwarna coklat .
Penampilan nya di percantik dengan kebaya merah bersalur benang keemasan yang melekat ketat di tubuh nya yang montok sehingga lekuk tubuh nya terlihat jelas , di padu dengan kain batik panjang .
Rambut nya di sanggul ala tradisional Sunda dihiasi dengan mahkota melati dan tusuk konde.
" Ck..ckk..ieu lain manusa, tapi geulis kawanti-wanti kawas widadari (Ini bukan manusia, tapi cantik jelita seperti bidadari)" gumam beberapa laki - laki terpesona dengan kecantikan nya.
" Andai Embun jadi kabogohan urang ( kekasih saya) , apapun yang di minta urang bere ( saya beri) " gumam kang Cepi dalam hati nya.
Para penonton bersorak sorai kegirangan menyambut nya.
Ia menaiki panggung , mulai menari dengan lincah dan menggoda para penonton di iringi suara alunan musik gamelan yang dinamis, di susul suara gendang .
Ketika irama musik gong,
rebab, saron dan jelong berbunyi dengan cepat . "Blegggg...bleggggggg..timbleg
blegg...ning..nong..ning..nong...blegggg...bleggg..timbleg...!!".
Ia menggeol dan memutar pinggul nya dengan cepat mengikuti irama musik.
Para penonton laki- laki melihat geolan pinggul nya menahan nafas dan merasakan gairah seksual nya meningkat "kehed sia, aing teu kuat ( sial amat, gw ga kuat)....suku aing ( kaki saya ) gemetaran " bisik salah satu penonton kepada teman nya.
" Koplok, gelo maneh ( bego, gila kamu) ..gera ke jamban
( cepat ke toilet ) , huahahaaa !!" kata teman nya tertawa geli melihat teman nya gemetaran kaki nya.
Seorang bapak tua berdiri di samping mereka tidak kuat melihat pemandangan itu, sampai duduk gelosor di tanah dengan nafas memburu seperti opelet tua.
Kang Cepi hanya bisa menelan ludah dan mata nya nanar menatap goyangan pinggul nya yang besar dan bulat.
Akhirnya, saat pertunjukan berakhir, kang Cepi mendekati
nya untuk mengajaknya berkenalan , Embun Wati dapat membaca fikiran nya dan memutuskan untuk bermain-main dengan nya , ia tersenyum lembut dan bergumam dalam hati nya "hati-hati kang ( kak ) , jangan main- main dengan urang (saya ) , hidup maneh
( kamu) akan berakhir melarat pisan ( miskim banget ) " .
Dengan senyum manis nya ia menggoda kang Cepi yang tidak tahu sudah banyak laki- laki yang menjadi korban jeratan asmara nya dan di gerogoti harta nya sampai habis ludes tidak bersisa .
Kang Cepi yang sudah mabuk kepayang meninggalkan anak dan istri nya.
Tanpa di sadari, secara perlahan tapi pasti harta nya di gerogoti oleh Embun Wati , akhir nya harta nya habis tidak bersisa, kang Cepi yang kaya raya menjadi miskin kemudian di tendang oleh nya.
Cinta buta membuat nya berujung pada penderitaan , kekecewaan dan penyesalan.
Embun Wati masih terus menebar pesona nya lewat tarian nya yang memukau untuk menjebak laki - laki hidung belang yang kaya raya untuk di jadikan korban nya.
Komentar
Posting Komentar