Penghuni Panti Meninggal Dalam Pelukan Ku
Aku ingin membagikan ceritaku
Ketika bekerja sebagai Tenaga Pekerja Sosial di salah satu Panti Jompo .
Pekerja Sosial adalah
seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai praktik pekerjaan
sosial serta telah mendapat sertifikat kompetensi.
Tugas ku di sana memberikan pelayanan sosial kepada individu, keluarga,
kelompok, maupun Masyarakat yang membutuhkan sesuai dengan nilai-nilai Pekerjaan
Sosial. Suatu hari Panti kami menerima
rujukan dari Lembaga, seorang perempuan lansia berdasarkan hasil laporan dari warga bahwa ada orang terlantar di wilayah nya.
Lansia tersebut bertubuh kurus kecil,
berambut hitam ombak sebahu, berkulit kuning langsat, penampipan nya seperti orang berada.
Memperkenalkan diri sebagai ibu Nadia berusia 65 tahun , berasal dari Jakarta.Setelah di lakukan pendataan ibu Nadia di tempatkan di
wisma khusus Perempuan.
Panti kami berdiri diatas tanah dengan luas 5000 meter
terdapat 4 wisma di sana di mana setiap
wisma terdapat tenaga Pendamping untuk melayani para penghuni Panti. Beberapa hari tinggal di Panti,
Pendamping Wisma melapor
kan bahwa ibu Nadia belum
dapat beradaptasi dengan lingkungan baru, keseharian nya hanya di isi dengan melamun dan menyendiri di kamarnya , serta tidak mau mengikuti kegiatan yang ada di
Panti
Suatu siang dengan di antar oleh pendamping
wisma, ibu Nadia di bawa ke ruang konseling , dia terlihat lesu tidak bersemangat.
" Pagi...!! Ibu Nadia, apa kabar nya ? Sehat kan hari ini? " sapa ku .
" Perkenalkan nama ku ibu Yulia " kataku membuka pembicara
an.
Dia menjawab dengan suara pelan " bu kapan saya bisa pulang ? ?, saya ga betah tinggal di sini " kata nya dengan wajah sedih.
" Saya juga sangat kecewa dengan dengan teman saya yang melaporkan ke RT bahwa saya orang terlantar, ketika uang saya masih banyak dia mau menerima saya dengan senang hati".
" Ibu punya keluarga di kota ini?" tanyaku, dia menjawab “ saya sudah tidak
memiliki keluarga karena hubungan saya dengan keluarga sudah lama terputus , saya juga ga memiliki saudara kandung” .
" Kenapa bisa terputus hubungannya
dengan keluarga? tanya ku , dengan singkat di
jawab “ karena orang tua saya ga suka dengan pria pilihan saya yang waktu
itu masih belum mapan pekerjaannya, kemudian saya kabur dari rumah untuk
menikah dengan pria pilihan saya.
” Kalau ibu ga mau pulang , dengan senang hati kami bisa mengantarkan karena sebaik- baik nya berkumpul dengan keluarga di masa tua " kata ku.
" Apakah ibu bisa memberikan alamat
keluarga pada kami ??" tanya ku.
Dengan cepat ibu Nadia mengatakan bahwa sudah lama putus hubungan dengan keluarga
sejak dia menikah dengan suami nya.
" Saya ga tau di mana orang tua saya tinggal sekarang karena sudah lama saya list contac "kata nya.
Aku faham dia sedang
menyembunyikan identitas dirinya, tapi aku tidak memaksa nya untuk memberitahu
keberadaan keluarganya karena bila di paksa pastinya langsung menutup
diri .
" Bagaimana cerita nya ibu bisa tinggal bersama teman ibu dan dimana suami ibu??" tanya ku lagi.
Kemudian dia melanjutkan ceritanya " Beberapa puluh tahun yang lalu saya nekad menikah dengan suami tanpa seizin orang tua , selama menikah dengan nya saya tidak memiliki anak tetapi suami tidak mempermasalah
kan hal itu".
" Setelah menikah, karier suami
saya meningkat di angkat menjadi Kepala Sekolah di sebuah sekolah
Swasta” wajah nya tersenyum mengingat kejadian tersebut.
“Pastinya ibu Bahagia ya menikah dengan suami ibu " kataku
“ Sangat Bahagia , tapi setelah bertahun- tahun hidup
berumah tangga, saya melihat perubahan sikap suami saya , sering pulang telat
dan perhatiannya berkurang bila saya tanya alasannya banyak pekerjaan di
Kantor, sebenarnya saya curiga apakah ada Wanita lain di hati suami saya , tapi
saya berfikir positif saja” sambungnya dengan lancar.
Sejenak terdiam, air mata mulai mengalir di pipinya yang mulai keriput " sampai suatu hari , suami saya mengatakan ingin menikah lagi!!", alasannya ingin punya anak." " Hati
saya hancur dan menangis meminta nya untuk jangan menikah lagi, tetapi suami
saya sudah bertekad ingin menikahi wanita tersebut karena sudah hamil" katanya sambil menangis sedih. " Saya
sempat mengancam suami saya, pilih saya atau perempuan tersebut tetapi suami saya memilih perempuan itu " tangisannya semakin keras tubuh nya yang kurus sampai berguncang .
Saya mencoba menenangkan " Yang sabar ya bu? ".
" Kalau mengingat peristiwa itu, sakit hati saya bu, huhuhu !!! , saya sudah di usir keluarga karena memilih nya tapi dia membuang saya begitu saja huhuhu!!! " tangis nya makin semakin keras, saya menenangkan nya dengan mengusap - ngusap punggung nya.
Pada saat menceritakan
kejadian tersebut, ibu Nadia terlihat emosi sekali dan nafasnya ter sengal - sengal dan
air matanya menetes deras di pipinya.
" Apa yang ibu lakukan setelah itu? "tanya ku.
" Saya memilih keluar dari rumah , karena saya tidak mau di poligami,
saya hanya membawa baju , sedikit uang dan perhiasan!!! , tujuan nya kerumah
teman , agar suatu hari nanti suami menjemput , tetapi setelah
beberapa bulan suami tidak pernah datang menjemput saya " sambung nya air mata menetes dengan deras nya.
" Lama – kelamaan uang
saya habis dan penyakit asma saya sering kambuh bila memikiran nasib
saya" air mata nya masih menetes di pipi nya yang cekung.
" Kenapa teman ibu bisa melaporkan ibu ke pihak RT , mengatakan ibu orang terlantar " tanyaku lagi
" Awalnya teman saya yang bernama Rosi yang tinggal sendiri di kontrakan , tidak merasa keberatan
menampung saya , karena saya membayar semua kebutuhan di rumah nya , lama- lama uang saya habis karena tidak ada pekerjaan dan tanpa sepengetahuan saya, dia melaporkan ke pihak RT , lalu saya di bawa kesini !!! " lanjut nya.
" Oo, tindakan teman ibu sudah benar, kalau ibu di sana akan terlantar, apalagi kesehatan ibu semakin menurun, kalau ibu tinggal di sini smua nya terjamin dari makan, kesehatan, pakaian " kata ku memberikan informasi tentang pelayanan di Panti.
Dia menyela dengan cepat " tapi bu, saya ga suka tinggal di sini, tidur di kamar harus beramai- ramai , belum lagi ada saja yang bertengkar
tiap harinya hanya masalah sepele.”
" Kalau ibu tidak mau di Panti, ibu mau tinggal di mana? kalau pun memaksa pulang, ibu harus memberitahu di mana orang tua atau saudara ibu tinggal? jawab ku, dia hanya terdiam. Setiap aku tanyakan tentang keberadaan orang tua atau saudara dia selu menghindar , seperti nya dia sedang menyembunyikan sesuatu.
Aku memberikan pemahaman agar Ibu Nadia bersabar, menerima kenyataan hidup dan belajar beradaptasi dengan lingkungan baru
karena Panti adalah tempat teraman bagi nya.
Sebenarnya aku juga memaklumi ibu
Nadia sulit beradaptasi dengan lingkungan Panti , karena dia
berasal dari keluarga berada dan berpendidikan,
sedang sebagian besar di panti adalah orang hasil penertiban dari jalanan meeski pun ada juga beberapa yang
memiliki keluarga tetapi setelah di laukan visit keluarga tidak mau menerima
dengan berbagai alasan.
Aku juga menekankan bahwa semua teman-teman yang ada di
Panti dan para petugas akan menjadi
saudara nya , oleh sebab itu ibu Nadia harus belajar menerima kenyataan hidup dan membuka diri untuk berbaur dengan teman- teman yang ada di Panti
Setelah beberapa bulan di
Panti ibu Nadia sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan
panti, dia mau mengikuti kegiatan meski tidak semua di ikuti, dia juga sudah
memiliki sahabat , teman sekamar nya, bernama ibu Sofia, temannya penyandang tuna Netra.
Dalam keseharian mereka saling bantu membantu, setiap hari mereka pergi ke
masjid untuk mengikuti pengajian . Dalam waktu singkat ibu Nadia sudah dapat membaca Al Quran dan rajin Sholat , di bimbing oleh Petugas Panti. Aku terus fokus dengan ibu Nadia karena mood nya naik turun , bila sehari tidak bertemu dan ngobrol , dia
menjadi gelisah. Bila gelisah dan
sedih berkepanjangan penyakit asmanya akan kambuh.
Meakipun hubungan kami sudah dekat tetapi dia masih terus menutupi
keberadaan keluarganya.
Suatu hari dia mengatakan bahwa dia ingin meninggal
sebelum aku memasuki Purna Bhakti .
"Bu , saya ingin meninggal sebelum ibu pensiun !!" katanya dengan sedih.
" Ibu tidak boleh berbicara seperti itu , hanya Allah yang tahu kapan umat nya akan meninghal !! ”kata ku.
" Saya takut tidak ada yang akan perduli dengan keadaan saya ,hanya ibu yang
bisa mengerti saya !! " dan air mata nya mengalir dengan deras di pipi nya.
Saya menasehati agar ibu Nadia jangan terlalu introvert harus
membuka diri dengan petugas lain, dan semua petugas perduli dengan klien nya.
Suatu malam asma ibu Nadia, kumat , ia mengalami sesak nafas yang hebat mungkin terlalu stres memikirkan nasib nya.
Malam itu penjaga piket malam langsung
melapor ke Perawat yang standby di
panti, bahwa ibu Nadia sakit dan mengalami
sesak nafas hebat , dengan cepat perawat memberikan tindakan medis dengan alat nebulizer dan oksigen.
Setelah di berikan tindakan
tersebut, kondisi nya membaik dan bisa
tidur malam itu dengan nyenyak.
Ke esokan paginya perawat
melapor bahwa ibu Nadia sakit semalam dan
saya memerintahkan nya untuk segera membawa nya ke Puskesmas .
Sebelum berangkat ke Puskesmas , saya menemui ibu Nadia di kamar nya , yang terlihat sehat dan
ceria dan mengatakan sambil tersenyum “ bu semalam saya sesak nafas hebat, sakit nya ga kaya biasa nya, terasa sakit sekali !!, saya
fikir saya sudah mau meninggal malam itu !! ”.
" Tidak boleh berkata seperti itu, ibu pasti sehat kembali !! " kataku memberi semangat.
Dia tersenyum ceria dan memilih pakaian yang terbagus untuk pergi ke Puskesmas. Sepulang dari Puskesmas , perawat melapor kalau ibu Nadia, tidak
perlu di rujuk ke Rumah sakit kecuali bila sesak nafasnya kambuh dan penyakit
nya semakin parah.
Setelah beberapa jam ibu Nadia pulang dari Puskesmas , aku di kagetkan oleh
teman sekamarnya yang datang tergesa- gesa ke kantor memanggil nama ku “
bu..bu…, Yulia , ibu Nadia kumat asmanya, dia sedang sesak nafas dan dia minta ibu menengok nya" kata teman srkamar nya dengan panik . Dengan terkejut , aku dan teman ku
langsung berlari menuju Wisma, setiba di
Wisma saya melihat ibu Nadia berada di atas tempat tidur nya , posisinya menelungkup memegang dadanya, sedang kesulitan bernafas .
" Tolong bu... Sakit sekali rasanya, saya ga bisa bernafas !! " rintih nya, sambil berusaha mengambil nafas.
" Perawat cepat pasang oksigen !!! " kata ku dengan panik , perawat dengan sigap memasang oksigen untuk melegakan pernafasannya, tetapi sepertinya alat itu tidak berfungsi dia masih kesulitan bernafas , keringat membasahi tubuh nya.
Aku
peluk dan tepuk-tepuk punggung nya sambil memerintakan perawat untuk segera menyiapkan
ambulan dan membawanya segera ke RS.
Posisi ibu
Nadia terus menelungkup dan terengah-engah mencoba menarik nafas , baju nya sudah basah dengan keringat dingin dan
mengatakan dengan suara lemah " sakit sekali buuu..saya tidak bisa bernafas !!! "." Bagaimana lebih enak sekarang di pasang oksigen? , apa sudah bisa bernafas ?" tanya ku. Masih dengan posisi menelungkup dia menggeleng
kan kepalanya, punggungnya semakin di banjiri keringat dingin baju nya sudah badah kuyup , tiba- tiba dia berbisik dengan lirih " bu maafkan saya , sakit sekali ini!!".
Ketika perawat sedang sibuk menyiapkan ambulan untuk membawa nya ke RS, tiba - tiba ibu Nadia terjungkal dalam posisi terlentang di tempat
tidur nya seperti ada yang menarik dengan keras.
Gigi bawah nya menggigit bibir atas seperti menahan sakit yang luar biasa dan wajahnya berubah menjadi biru.
Aku panggil - panggil
nama nya tapi tidak merespons " bu Nadia.. bu Nadia .. dengar saya ga !! " kata ku memanggil- manggil sambil menggoyang- goyangkan tubuh nya dengan lembut tapi tidak merespons wajah dan kuku nya sudah mulai membiru.
Perawat segera melakukan tindakan resusitasi atau CPR adalah tindakan pertolongan pertama bantuan hidup dasar pada orang yang mengalami
henti nafas karena sebab-sebab tertentu dengan tujuan untuk membuka kembali
jalan nafas yang tertutup dengan teknik pemijatan atau penekanan pada dada.
Tetapi ibu Nadia sudah tidak merespons, segera perawat berkoordinasi dengan Pihak
Puskes untuk memastikan kondisi nya ,oleh dokter ibu Nadia di nyatakan sudah meninggal kemudian kami berkoordinasi
dengan Instansi terkait untuk di lakukan pemulasaran jenzah
Sangat menyedihkan kisah ibu Nadia di hari tua nya ,dari
orang berada yang bersuami
kan Kepala Sekolah
harus meninggal tanpa di tunggui oleh sanak keluarganya .
Ini hanya sebagian kecil
dari cerita menyedihkan dari para penghuni Panti mereka hidup di keramaian tetapi merasa kesepian karena tidak ada sanak saudara, anak cucu yang
datang untuk menengok atau menjemputnya
membawa pulang ke Keluarga.
Sampai meninggal ibu Nadia tetap menutupi keberadaan keluarga nya dan menyembunyi
kan alamat suami nya.
Dia merasa hidup sebatang kara karena keluarga nya telah membuang nya begitupula suami nya tempat dia bergantung, tidak memperduli
kan nya lagi.
Dari pengalaman ku bekerja di
panti banyak pelajaran yang dapat kupetik, bahwa hidup menjadi tua sudah pasti dan menjadi Impian semua orang hidup nyaman
berkumpul bersama anak cucu serta hidup sejahtera dimana tidak perlu lagi merasa pusing
mencari biaya untuk bertahan hidup
apalagi sampai masuk ke Panti.
Komentar
Posting Komentar