Arwah Preman Gentayangan Di Lapangan Tua Mencari Keadilan.
Di Kampung terpencil jauh dari keramaian Kota hidup seorang preman yang dikenal bengis bernama Duloh keling, memiliki ilmu silat tingkat tinggi sehingga di segani oleh musuh - musuh nya.
Kebengisan nya di gunakan untuk mengancam dan memalaki pedagang di pasar tradisional , banyak pedagang yang membenci nya tetapi tidak berani bila ada yang berani melawan nya , tak segan- segan memukuli nya sampai babak belur.
Suatu malam bang Duloh yang gemar mabok- mabokan dan main dengan PSK, berkelahi dengan sesama preman di warung remang - remang, mereka memperebutkan PSK pendatang baru yang bertubuh montok bernama Zaenab Bohay.
Bang Duloh yang sedang asik minum - minum di temani Zaenab Bohay di tantang berkelahi oleh bang Jhoni yang merasa cemburu dengan nya.
" Bang Dul , si Zaenab udah aye boking sedari sore jadi abang minggir !!" kata nya dengan kasar.
Bang Duloh yang termperamental langsung emosi dan tanpa banyak bicara memberikan tendangan lurus tepat ke perut bang Jhoni yang buncit sampai terpental di pojokan meja.
" Arghhhhhhhhhhh....!!" teriak nya kesakitan .
" Busyet !! kurang ajar luh bang main tendang aje !!" teriak nya sambil meringis memegangi perut nya yang sakit .
Ia bangkit dan menyerang bang Duloh " ciatttttt !! rasain nih gaplokan aye..muke luh yang buluk, penyok !!" teriak nya dengan nafsu.
Bang Duloh yang jago silat menangis pukulan nya kemudian menyerimpung kaki nya sehingga jatuh nyungsep.
" Jangan ganggu aye curut pasar, pergi luh dari sini muke demek !!" bentak nya kepada bang Jhoni.
Para pengungunjung warung remang- remang berlarian menyelamatkan diri takut terkena amukan bang Duloh yang tempramental.
Mami Ponirah pemilik warung remang- remang berteriak- teriak dengan bahasa jawa tegal yang kental . "Oalah aja padu nang kene ( jangan bberkelahi disini)!, iso remuk warungku iki ( bisa hancur warungku ini) , minggat...kowee ( pergi kamu ) !!!, Dolipet, Sakerah dan Dugul usir mereka berdua dari warung ku !!" memanggil anak buah nya untuk mengusir mereka.
Anak buah nya mencoba mengusir tetapi mereka mental semua di tendang oleh bang Duloh yang mengamuk.
Ke dua preman terlibat perkelahian dengan sengit saling pukul, tangkis , banting dan tendang tetapi bang Jhoni harus mengakui kehebatan ilmu silat bang Duloh yang tinggi, dengan kaki nya yang besar dan keras seperti talas Bogor menjepit leher bang Jhoni dengan kuat, sampai tersengal- sengal nafas nya dan wajah nya membiru " aduh, kaki nye bau asyem jawe campur terasi Brebes , bise aye semaput
( pingsan) !! gumam nya dalam hati .
" Ammpuun bang.......lepasin jepitan kaki abang , aye ga bisa nafas , arghhhhhhhh !! kata nya dengan wajah memelas.
" Jangan pernah ganggu aye lagi, minggat ( pergi) luh dari sini , curut pasar !!" teriak nya sambil menendang pantat bang Jhoni yang geboy sampai jatuh nyungsep mencium tanah.
Sejak kejadian malam itu bang Jhoni menyimpan dendam dan marah kepada nya, ia berniat membalas dendam .
Suatu malam bang Jhoni membuntuti bang Duloh pulang kerumah nya dalam keadaan mabuk berat , kepala nya terasa pusing, ia berjalan sempoyongan tersandung sandung , pandangan nya kabur sehingga beberapa kali jatuh keselokan dan bangkit lagi .
Dengan mengendap - ngendap dari belakang , ia menyerang nya dengan menusukan pisau nya berkali kali keperut bang Duloh yang buncit.
" Mampus luh malam ini bang Dul, rasain pembalasan aye , huuuh...!!!!" bisik nya dengan geram .
Bang Duloh yang mabuk berat tidak berdaya untuk melawan hanya merintih kesakitan "argh
hhh....sa..sakittttt...!!! dan tewas seketika dengan mata melotot di bawah cahaya bulan yang samar di pinggiran lapangan tua yang sunyi sepi.
Malam itu juga setelah membunuh bang Duloh, ia melarikan diri dari Kampung nya.
Keesokan pagi nya mayat nya yang sudah kaku membiru dengan perut luka tusuk menyebabkan robekan dinding perut membuat usus nya terburai keluar, tergelak di lapangan yang jauh tua dari pemukiman , mayat nya di temukan oleh pemulung yang lari terbirit- birit karena ketakutan "tuolonggg.....tuolong
.....adaaaa mayaaaaaaaaaaaaat pembunuhan di lapangan !!!" teriak nya ketakutan .
Setelah mendapat laporan dari warga , polisi memburu bang Jhoni sampai ke luar Kota , tetapi ia tidak dapat di temukan , raib ( hilang) bagai
kan di telan bumi.
Sejak kematiannya, warga mulai merasakan sesuatu yang aneh di lapangan tua , beberapa warga mengaku melihat sosok tinggi besar dengan jaket hitam berdiri menyender di tiang gawang, menatap kosong ke arah rumah-rumah warga yang jauh di pinggiran lapangan.
Suatu malam sekelompok remaja badung (nakal) nekad bermain bola di sana, mereka tidak percaya dengan arwah penasaran yang menghantui tempat itu.
Malam itu lapangan tua yang luas terasa sunyi sepi dan tanpa lampu sehingga minim cahaya menciptakan bayangan yang aneh dan menyeramkan, angin berhembus membawa bau rumput lembap dan debu.
Sekelompok remaja yang badung ( nakal) memulai permainan bola .
Wasit meniup peluit dengan panjang sampai terbatuk batuk tanda pertandingan di mulai.
" Bro , malam ini kite harus menang melawan Tim nye si Obleh , kite harus mencetak goal yang banyak, Ulo elo sebagai kiper kudu siaga jangan samai kebobolan " bisik nya ke teman nya.
" Bro, kite kudu ati- ati ame si Udin penyok , kaki nye terampil menjegal kaki lawan " kata Erwin mengingatkan teman- teman nya.
Permainan berlangsung dengan seru , Tim Erwin unggul 1-0 , Tim Obleh merasa was- was di bayangi kekalahan , pemain menggiring bola ke Tim Erwin dengan gesit , Ulo selaku kiper handal mengikuti gerakan lawan, ketika siap menangkap bola yang mengarah ke gawang nya ia tersentak dari kejauhan melihat sosok tinggi besar bergerak peralahan kearah lapangan, gerakan nya seperti melayang di atas tanah.
Sosok itu mengenakan jacket hitam basah berlumuran darah , dari perut nya yang terluka parah terburai usus nya.
Wajah nya yang pucat tersenyum kaku dan mata hitam nya menatap dengan tajam kearah nya.
" Uloooooooooo......kenape elu bengong aje, awas gawang kite kebobolan tuhh !!" teriak teman - teman nya dengan gemas tetapi Ulo hanya diam terpaku mulut nya ternganga dan jari telunjuk nya yang gemetaran menunjuk ketengah lapangan.
" It..ittt...ituuuu bang Duloh !!!" teriak nya tergagap.
Angin bertiup dengan kencang dan hawa dingin menusuk sampai ketulang , tercium bau anyir darah.
Mereka berbalik dan tersentak melihat sosok bang Duloh yang berwajah pucat dengan jacket hitam penuh darah serta usus terburai berjalan kearah mereka
Dengan tubuh gemetaran dan kaki terasa lemas, mereka lari kocar kacir ( cerai berai), jatuh
bangun meninggal kan lapangan tua " busyettttttttt...
it..ituuuu..hantu bang Duloooh, hih..seremmm amat tampang nye ( wajah nya) !!" kata salah satu remaja badung ( nakal) sampai terkencing- kencing di celana saking takut nya.
Terdengar suara berat dan serak terbawa angin berkata "tolong....cari keadilan untuk kuuuuuuuu...tolong.... akuuu !!!".
Keesokan harinya, warga Kampung gempar dan ramai membicarakan kejadian itu.
Warga Kampung semakin takut, para remaja dan anak-anak tidak ada lagi yang berani bermain bola di sana.
Arwah bang Duloh tidak bisa tenang , masih bergentayangan mencari keadilan yang tak kunjung datang.
Setiap malam arwah nya yang penasaran berdiri di pinggiran gawang di lapangan tua menunggu keadilan , karena pembunuh nya nya masih buron sampai hari ini .
Komentar
Posting Komentar