Di Ganggu Buto Ijo Penunggu Pohon Sawo Tua Angker.
Buto Ijo raksasa berwarna hijau dengan taring mencuat dan mata merah menyala.
Suatu malam Paimo seorang perjaka tua sehabis pulang dari warung remang- remang melewati jalan tersebut, sambil bersiul- siul dan senyum - senyum sendiri mengingat momen indah bersama Laksmi penjaja seks di warung remang- remang.
Ia mengayuh sepeda nya dengan santai sambil menikmati angin sepoi- sepoi di malam hari .
" Semprul tenan ( konyol banget ), bikin gendheng ( bikin gila) body si Laksmi sing ginuk-ginuk ( yang montok) , ga rugi aku membayar nya larang( mahal) untuk pelayanan nya sing jebule ora lumrah ( luar biasa) , aku dadi ( jadi) ketagihan, piye iki
( gimana ini ), mumet sirah ku
( pusing kepala ku) !!! , ck..ck..ck.." gumam nya pelan sambil menelan ludah .
"Oalah , peteng tenan jalan iki (Oalah, gelap banget jalan ini) di depan sana ada pohon sawo tua sing wingit ( pohon sawo tua yang angker)kata penduduk setempat ono Buto Ijo neng kono ( ada Buto Ijo di sana ) nanging aku ra percoyo ( tapi aku ga percaya) nek kepethuk Buto Ijo aku arep jaluk nomor togel ( tapi kalau ketemu Buto Ijo aku mau minta nomor togel ), hehehe " gumam nya sambil tertawa pelan.
Jalan setapak tersebut sangat gelap gulita membuat pandangan nya terbatas , selain itu jalan nya berupa tanah yang tidak rata dan berlumut dan di pinggir nya di penuhi semak belukar ." Aku kudu hati- hati ngontel
( ngayuh) sepedaku, iso tibo nyungsep lan bonyok raiku sing pas- pas iki ( bisa jatuh kedepan dan rusak wajah ku yang pas- pasan ini ) oalah, abot tenan rasano sepeda iki
( oalah, berat banget rasa nya sepeda ini ) "gumam nya sambil sekuat tenaga mengayuh sepeda nya . " Aduhh, Iso bodol pantat ku (aduh, bisa rusak pantat ku )" umpat nya sampai tersengal- sengal nafas nya.
Tiba- tiba angin bertiup dengan kencang, ia mulai di liputi perasaan takut dan menoleh ke pohon sawo tua yang besar dan rindang dengan ranting-ranting seperti cakar burung gagak .
" Hihhh..kok tiba- tiba bulu kuduk ku merinding " gumam nya.
Samar- samar di balik kabut yang tebal , ia melihat sosok demit( setan) sawah yang menyeramkan berwujud Buto Ijo raksasa besar berwarna hitam dengan bulu- bulu lebat menutupi seluruh tubuh nya, taring nya mencuat dari mulut nya yang lebar dan mata nya merah menyala menatap nya dengan bengis , ia mengeluar kan suara-suara aneh untuk menakuti - nakuti nya.
" Assuuuuuuu, iku Buto Ijo semprul ...!!! hihhh medeni lan gilani tenan raine ( anjing ..itu Buto Ijo konyol , hih nakuti dan menjijikan banget wajah nya ) !!" ujar nya dengan suara bergetar ketakutan , ia segera berbalik dan kabur meninggalkan tempat itu, karena jalan nya gelap gulita , licin dan tidak rata beberapa kalia ia jatuh nyungsep dengan sepeda nya.
" Aduhhhh..biyung loro tenan awak ku ( aduh ibu sakit banget badan ku )!!" gumam nya kesakitan .
Dengan tubuh gemetaran ia segera bangkit mengayuh sepeda nya sekuat tenaga nya menjauhi tempat itu. Sejak kejadian malam itu , ia kapok melewati jalan tersebut.
Malam itu terang bulan , Mbok ( ibu) Poniyem dan anak nya yang beranjak remaja bernama Gino , baru saja pulang dari hajatan di rumah adik nya Sukardi di Desa tetangga .
Untuk mencapai rumah nya mereka harus melewati jalan setapak di mana pohon sawo tua angker berdiri.
" Mbok aku wedhi ( ibu aku takut) , di depan sana ada pohon sawo tua wingit (angker), menurut cerita penduduk neng kono ono demit sawah berwujud Buto Ijo ( di sana ada setan sawah berwujud Buto Ijo ) yang suka menganggu manusia " bisik Gino di liputi perasaan takut.
" Kowe ra usah wedhi , No ( kamu ga usah takut, No), kedudukan manusia itu lebih tinggi dari setan, yen ( kalau) kita berani setan ga bakal mengganggu kita, percoyo karo mbok mu ( percaya sama ibu mu) " ujar mbok nya ( ibu nya ) menenangkan nya.
Saat mereka tiba di lokasi, suasana menjadi mencekam. Angin berhembus kencang, dan suara dedaunan bergemerisik .
" Mbokk..aku wedhi, weteng ku dadi mules( bu, aku takut perut ku jadi mulas) " bisik Gino ketakutan sambil memegangi lengan mbok nya ( ibu nya ) .
" Hushh..ojo rame..jalan wae ojo noleh- noleh ( hush..jangan berisik jalan saja jangan nengok- nengok ) " bisik mbok nya 0( ibu nya) sambil mempercepat langkah kaki nya.
Ketika mereka melewati pohon sawo tua angker, tiba-tiba mereka melihat sesosok Buto Ijo yang bertubuh tinggi besar berdiri di bawah pohon sawo tua angker.
Ia menyeringai kearah mereka, mata nya yang merah menyala menatap nya dengan sorot yang tajam.
Gino yang penakut langsung panik berteriak dengan keras dengan suara bergetar sambil memeluki mbok nya ( ibu nya) " mbokkk...iku ( ibu itu) Buto Ijjjoooo, ciloko 12, mate awakhe dhewe ( celaka 12 , mati kita ), akuuu wedhi, hih medeni tenan rupane(aku takut, hih nakuti banget rupa nya ) !!!".
" Ayo, cepat mlayu mbokkkk, aku wedhi di cokot karo untune sing lancip (ayo, cepat pergi bu, aku takut di gigit sama gigi nya yang tajam ) !!!" teriak nya lagi dengan suara bergetar .
Tetapi mbok nya ( ibu nya ) yang bernyali besar tetap tenang berdiri menatap Buto Ijo yang menyeringai dengan seram ke arah mereka dan mulut mbok nya ( ibu nya ) komat- kamit membaca doa perlindungan, sedang Gino yang penakut sudah terkencing- kencing di celana karena ketakutan.
Buto Ijo melangkah perlahan mendekati mereka, tubuh Gino semakin gemetaran dan jatuh terduduk dengan lemas tetapi mbok nya ( ibu nya ) tetap tenang berdiri meminta perlindungan kepada Tuhan dan tidak gentar menghadapi nya , ketika selangkah lagi Buto Ijo mendekati mereka, tiba- tiba tubuh Buto Ijo yang tinggi besar terpental dengan kencang kebelakang dan ia berteriak dengan suara parau" argggghhhhhhh !!!" , tidak beberapa lama sosok Buto Ijo menghilang meninggalkan aroma busuk yang sangat menyengat.
" Aduhh, mambune nggawe weteng ku mual ( aduh, bau nya membuat perut ku eneg ) ayoo, No cepat kita tinggalkan tempat ini...!!" kata mbok nya
( ibu nya ) sambil menarik lengan Gino yang masih gemetaran, baju nya sudah basah kuyup dengan keringat dingin.
Mereka berlarian meninggalkan tempat itu , tanpa berani menoleh ke belakang.
Sejak malam itu, mereka tidak berani lagi melewati pohon sawo tua angker .
Sampai hari ini pohon sawo tua angker masih berdiri di sana dan tidak ada seorang pun yang berani melewati jalan tersebut bila malam hari.
Komentar
Posting Komentar